By: Elie Mulyadi
Ketika kau tak tahu arah mana yang dituju
Ketika langkah terasa bimbang dan ragu
Berhentilah sejenak dan dengarkan suara hatimu…
Dengarkan hatimu
Kamulah yang memiliki mimpi-mimpi itu
Meski kadang kau ragu apa perjuanganmu berguna
Teruskan saja…
Sebuah dering telepon menghampiri saya, suatu pagi di bulan Juli. “Mbak Elie, assalamu’alaikum. Saya ukhti dari negeri seberang.”
Suara ceria seorang wanita menyapu telinga saya. Kegembiraan, juga rasa heran, segera berbaur dalam hati saya. Siapakah ukhti yang menelepon ini? Sungguh takjub, di pagi hari begini Allah sudah mendatangkan rezeki, lewat suara yang terdengar akrab ini.
Kemudian, layaknya orang yang baru pertama kali bertemu, dia memperkenalkan diri. Cerita pun mengalir dari bibirnya. Bahwa ukhti ini tinggal di negeri tetangga, sudah dua tahun lamanya, demi bekerja di sebuah keluarga. “Bekerja di sini enak, Mbak Elie. Tapi saya ingin berhenti,” kalimat itu meluncur, ditimpali dengan isak tertahan.
“Kenapa harus berhenti?” saya terheran. “Mencari pekerjaan enak itu nggak gampang lho. Mengapa ingin dilepaskan?”
“Saya bekerja di keluarga non muslim.... Gajinya cukup, tapi saya dilarang sholat dan puasa. Saya ingin berhenti, Mbak. Saya ingin pulang, dan kembali mendekat pada Allah. Saya ingin kembali pada identitas kemusliman saya.”
Ada nada semangat dalam suaranya. Sebuah tekanan tekad, yang mungkin lahir dari rasa bersalah, atau endapan kerinduan yang berbaur gundah. Sebuah senyum terukir di sudut hati saya, betapa Allah Mahakuasa memberi hidayah. Seorang perempuan, yang tengah bekerja di negeri orang, berjuang menafkahi hidup, entah bagaimana bisa mendapat cahaya untuk kembali ke jalan-Nya.
“Saya ingin pulang. Dan mencari pekerjaan lain yang bisa menolerir ibadah saya sebagai muslim. Maukah Mbak Elie membantu saya? Karena saya ingin pulang, namun tak tahu harus pulang ke mana. Keluarga saya sudah terpencar entah di mana.”
Dan begitulah. Setelah telepon pertama itu, dia menelepon saya hampir setiap minggu. Memastikan saya bersedia menjemputnya di bandara saat ia pulang nanti. Waktu berlalu cepat. Tahu-tahu sebulan sudah lewat. Malam itu, di bandara, Allah mempertemukan saya dengannya. Kami tidak saling mengenal sebelumnya, namun sebuah kontak hati akhirnya mempertemukan kami. Ketika dia memeluk saya, dan saya pun memeluk dia, sebuah rasa syukur menyelinap. Terima kasih ya Allah, telah menganugerahkan kepada saya satu orang lagi saudara. Ketika kami duduk berhadapan, cerita pun mengalir deras dari bibirnya, disertai isak tangis sedih dan bahagia. Sedih, karena dia terkenang kembali masa lalunya yang pahit yang membawanya terpaksa bekerja di negeri orang tanpa bisa menjalankan kewajiban beribadah. Bahagia, karena meski tak ada sanak keluarga menjemput, Allah menjemputnya lewat kehadiran saya.
Hari sudah lewat tengah malam ketika semua urusan administrasi selesai dan akhirnya kami bisa keluar dari bandara. Rasa lelah terpancar dari wajah ukhti ini. Saya mengerti, bahwa keputusannya untuk keluar dari pekerjaan dan kembali ke tanah air, adalah keputusan yang sulit. Ukhti ini adalah tulang punggung keluarga, namun demi menggenggam keislamannya yang sempat terlunta, ia rela kehilangan sumber nafkahnya, dan memilih mencari jalan lain yang searah dengan ridho Illahi. Subhanallah. Bukan suatu pilihan mudah. Namun dengan tekad baja, setelah melewati kesulitan demi kesulitan untuk pulang ke Jakarta, ia pun mewujudkan keinginannya.
Sahabat, ingin rasanya saya menyebut nama ukhti dalam kisah di atas. Namun demi kepentingan bersama, biarlah ia hanya tampil sebagai sebuah kisah saja, bukan sebuah nama. Yang pasti, ada pelajaran penting yang bisa kita raih darinya. Bahwa hidup selalu terdiri atas pilihan-pilihan. Kadang pilihan itu sulit, kadang mudah, namun bagaimanapun tingkatannya, kita tetap harus memilih.
Memilih sering menjadi hal yang memusingkan. Kadang menakutkan. Saat kita mendengar kata “pilihan”, sepertinya kita sedang dihadapkan pada sebuah final. Kalau sudah memilih, kita harus siap dengan konsekuensi. Ada resiko di depan, ada tantangan di hadapan, yang nanti mesti kita ambil. Duh, rasanya memilih begitu sulit. Sulit, karena kita takut itu bukan yang terbaik. Takut itu hanya akan menghadirkan penyesalan di akhir. Oleh sebab itu sebagian dari kita enggan memilih. Atau, berpikir begitu lama, hingga saatnya kita selesai memilih, kesempatan penting itu sudah tiada.
Sebagai contoh, seorang teman saya harus memilih antara kerja dan keluarga. Ia sedang berada di puncak karier ketika ia tiba-tiba menikah dan punya anak. Kehadiran si kecil menyita waktu dan perhatian. Pekerjaan terbengkalai. Apa yang mesti ia lakukan? Ia harus memilih. Kedua-duanya namun setengah-setengah, atau salah satunya. Begitu berat rasanya teman yang satu ini membuat keputusan. Bayangkan, karier yang telah dirintisnya dengan segenap jiwa raga selama tujuh tahun, harus berakhir begitu saja? Tapi kalau diteruskan, bagaimana dengan ananda tercinta? Bukankah menjadi ibu adalah profesi teragung yang bisa didapat seorang wanita? Duh, bingung, bingung sekali. Di hadapannya terbentang dua jalan yang tampak sama indah. Kalau tidak cepat menentukan arah, ia akan tergelincir ke dalam jurang dan kehilangan semuanya.
Sahabat, kalau teman saya ini jadi Anda, jalan mana yang akan Anda pilih? Sulit bukan? Hmm…ternyata tidak juga. Teman saya memilih salah satu jalan, yakni menjadi ibu rumah tangga. Namun ternyata, dengan pilihan ini, dia tidak kehilangan apa-apa. Dia tetap mendapat kedua-duanya – menjadi ibu rumah tangga, juga wanita karier. Ya. ia berhenti dari pekerjaan kantornya, dan mulai berbisnis dari rumah. Ia bisa bekerja sambil membesarkan si kecil. Ia tidak kehilangan pekerjaan, hanya pindah dari kantor ke rumah. Penghasilannya tetap, keluarga pun terawat. Indah bukan?
Ternyata memilih atau membuat keputusan tidaklah segenting kedengarannya. Tidaklah semenakutkan itu. Selalu ada celah di mana kita tidak dihadapkan pada kata ‘ATAU’, namun justru kata ‘DAN’. Awalnya kita merasa harus memilih “karier ATAU keluarga”, dan ketika kita sudah membuat keputusan matang, yang terjadi adalah kita bisa memilih keduanya- “karier DAN keluarga”.
Sahabat, di dunia nyata, tentu saja ada beberapa pilihan yang tidak mudah, karena menyangkut suatu keputusan besar yang harus dipertimbangkan secara serius. Misalnya, seorang teman bisnis harus memutuskan, akan terus melanjutkan bisnis atau menutupnya? Kalau lanjut, ia akan terus menderita kerugian dan menumpuk utang modal. Kalau berhenti, ia harus memecat karyawan dan membiarkan ratusan orang kehilangan mata pencaharian. Tidakkah keduanya merupakan pilihan yang menyakitkan? Kalau lanjut, ia sendiri yang akan berdarah-darah. Kalau tutup, orang lain-lah yang akan menderita. Kalau teman saya itu jadi Anda, mana pilihan Anda?
Jawabannya terserah Anda. Tergantung prioritas dan nilai-nilai Anda. Namun sekali lagi, dalam setiap pilihan, kita tidak harus menghadapi ‘ATAU’, melainkan bisa mendapat ‘DAN’. Anda bisa memilih melanjutkan bisnis, yakni dengan mengadopsi teknologi baru, inovasi baru, meng-upgrade skill karyawan, sehingga usaha menjadi efisien dan bisa bertahan atau bahkan maju. Atau sebaliknya, seperti yang dilakukan teman saya. Dia menutup bisnisnya, namun tidak diam di sana. Ia berusaha, membekali semua karyawan dengan pelatihan pasca PHK, dan mengatur mereka agar bisa bekerja di tempat lain yang masih koneksinya. Sebuah pilihan yang sulit, namun bila ditimbang dengan nurani, hasilnya takkan begitu membuat sakit.
Sahabat, dalam hidup terkadang kita tidak harus berpikir terlalu rumit. Misalnya, apakah saya akan memilih dia sebagai pendamping hidup? Bagaimana kalau dia nggak sebaik yang saya kira? Bagaimana kalau dia nggak bisa menjadi imam keluarga? Bagaimana kalau dia nggak sayang anak dan istri? Bagaimana kalau setelah menikah nanti, dia memutuskan berpoligami?
Kalau kita terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menghitung untung-rugi, kita takkan pernah sampai kepada pilihan. Seperti kisah ukhti di awal cerita. Sebelum ia memutuskan, di benaknya tentulah ada berpuluh pertanyaan. Bagaimana saya bisa pulang? Bagaimana saya harus menjelaskan pada majikan? Apakah mereka akan marah kalau saya keluar? Bagaimana bila setelah saya berhenti, saya tak dapat kerja lagi yang sebaik ini? Bagaimana saya akan menafkahi hidup? Dan puluhan bagaimana lainnya, yang tanpa jawab dan hanya berakhir di ujung sajadah. Namun keputusan harus diraih, dan ia berani memilih. Bukan dengan perhitungan untung rugi, namun dengan mendengarkan suara hati…
Ya, Sahabat. Dengan mendengarkan suara hati, dan tentunya setelah berdialog dengan Allah dalam doa-doa panjang, ukhti ini memutuskan untuk pulang. Sekarang ia sudah berada di tanah air, menjalani ibadah ramadhan dengan tenang. Dan seperti prasangka baiknya akan kemurahan Allah swt, belum seminggu ia pulang untuk mendekat pada-Nya, seorang kenalan sudah menawarinya pekerjaan lain, dengan gaji lebih tinggi, dan di sebuah keluarga muslim pula! Subhanallah…betapa indah skenario yang digariskan-Nya. Pilihan yang awalnya sulit, akhirnya berakhir bahagia.
Sahabat, berpikir tanpa akhir bukanlah cara terbaik untuk membuat sebuah keputusan penting. Kita takkan pernah mampu membuat keputusan yang tepat dengan menggambarkan semua pro, kontra, dan hasil-hasil yang mungkin terjadi. Kenapa? Karena kita bukan peramal masa depan. Untuk mendapat sebuah prediksi, terlalu banyak variabel yang menentukan. Takkan ada sebuah jaminan. Karena jaminan hanyalah milik Allah swt.
Jadi, bagaimana kita harus memilih? Ambillah wudhu, tengadahkan telapak tangan, mintalah hanya Allah yang membuatkan sebuah ketetapan. Dan akhirnya, tengoklah ke dalam, dengarkan suara hatimu yang terdalam. Kalau kita merasa cocok dengan suatu pilihan, atau bila pilihan itu dirasa tepat untuk kita, insya Allah, pilihan kita nggak akan salah. Bilapun hasilnya nanti berbeda dari harapan, ‘kesalahan’ itu akan menjadi sebuah pengalaman yang indah, di mana kita bisa belajar banyak darinya. Seperti ketika Anda minum sirup, Anda harus memilih yang rasa jeruk atau melon. Anda memilih rasa melon, dan ternyata nggak enak. Anda ingin mengambil rasa jeruk, tapi sudah diminum orang. Apa yang mesti dilakukan? Anda sudah membuat pilihan, yakni minum sirup melon. Meski nggak enak, Anda telah belajar hal baru tentang diri sendiri, yakni rasa melon tidak cocok buat Anda. Dunia belum berakhir. Jikapun sirup jeruk sudah diminum orang, masih ada toko-toko lain yang menjualnya. Jikapun sirup jeruk sudah langka, masih banyak pilihan lain mengikuti Anda: lihatlah di sana ada sirup rasa stroberi, mangga, markisa, dan yang lainnya.
Nah, Sahabat. Ketika dihadapkan pada dua arah yang berbeda, kita boleh merasa bimbang, tapi jangan keterusan. Pilihlah jalan yang terbaik, yaitu yang paling sreg di hati, karena hati terdalam takkan pernah berdusta. Perjuangan kita masih panjang, kadang kita merasa sudah lelah, namun jangan menyerah. Dengarkan suara hatimu. Kembalilah pada tujuan awalmu. Anda-lah yang memiliki mimpi-mimpi itu. Genggamlah mereka. Meski kadang Anda ragu apakah perjuangan akan berhasil pada akhirnya, teruskan saja. Seperti lirik lagu terkenal berikut ini:
Sometimes you wonder if this fight is worthwhile
The precious moments are all lost in the tide
They're swept away and nothing is what it seems
The feeling of belonging to your dreams
Listen to your heart…
Download lagunya di sini: Per Gessle - Listen to Your Heart.mp3
Artikel ini copyright@2009 by Elie Mulyadi, dimuat di Majalah Hidayah
Rabu, 09 September 2009
Dengarkan Suara Hatimu
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






0 komentar:
Poskan Komentar