How to Survive from Rejections
Oleh: Elie Mulyadi
Seorang pria bernama Jack bermimpi untuk menulis buku. Bukan buku biasa. Rencananya buku itu akan berisi kumpulan kisah nyata yang unik, menggugah, dan ditulis singkat-singkat. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Jack percaya buku itu akan disukai, sehingga menulislah ia dengan penuh semangat. Ketika rampung, naskah itu pun diajukan ke penerbit. Jack optimis akan mendapat respon positif.
Tapi di luar dugaan, penerbit menolaknya. Ah tenang, masih banyak penerbit lain yang akan tertarik untuk mempublikasikan karyaku, pikirnya. Ia pun mencoba lagi, dan hasilnya...ditolak lagi. Mencoba lagi, ditolak lagi. Begitu seterusnya. Hingga tanpa terasa naskahnya sudah ditolak 124 kali!
124 kali. Ya! Jumlah yang sangat banyak, bukan? Tak terbayangkan, bagaimana seseorang bisa tahan menerima penolakan sebanyak itu. Jangankan 124 kali, sekali ditolak saja seringnya kita marah dan kecewa. Namun Jack tidak. Ia yakin penolakan itu akan berakhir. Dan benar saja, naskah itu akhirnya diterima juga oleh penerbit berikutnya. Dan seperti blessing in disguise, begitu terbit, bukunya langsung laris manis. Saking larisnya, sampai-sampai dibuat banyak serial. Lewat buku itu, Jack Canfield meraih rekor dunia sebagai penulis yang buku-bukunya menempati posisi terlaris nomor satu selama tujuh kali berturut-turut. Kini buku serial “Chicken Soup for The Soul” sudah terbit di seluruh dunia dan terjual lebih dari 112 juta kopi!
Sahabat, saya tidak pernah bertemu Jack, kecuali lewat dunia maya. Namun kisah ini selalu menginspirasi saya. Bahwa saat ditolak, seharusnya kita tidak fokus pada rasa kecewa, melainkan terus mencoba. Dalam hidup, penolakan seringkali tak terhindarkan. Apa yang terjadi kalau kita mudah down? Mungkin kita takkan pernah meraih pencapaian.
Sebagai contoh, seorang teman yang bekerja di bidang marketing, tidak tahan menghadapi penolakan. Begitu pendekatan pertamanya ditolak, ia langsung menyerah. ”Ah, klien ini sudah nggak tertarik, ngapain terus dihubungi?” pikirnya. Karena tidak ada usaha ekstra untuk meyakinkan klien, pekerjaan marketing-nya pun tak berhasil. Kalaupun ada hasil, tidak cukup berarti. Ia pun terpaksa berhenti dari bidang ini. Ia gagal.
Ditolak memang tidak enak. Saat seseorang menolak kita, rasanya harga diri kita langsung jatuh di matanya. Tak heran bila yang terbersit adalah rasa malu, marah, dan kecewa. Tapi apa benar demikian? Benarkah penolakan selalu harus membuat kita merasa buruk?
Mungkin ada baiknya kita simak lagi sebuah kisah. Tentang seorang wanita yang selalu ditolak. Wanita ini sudah siap menikah sejak usia 20 tahun, namun tak jua dipertemukan jodoh yang tepat. Taaruf pertamanya dengan seorang pria, gagal, karena sang pria merasa tidak cocok. Taaruf kedua, gagal juga, karena ia tak memenuhi kriteria. Dan taaruf-taaruf berikutnya selalu berakhir sama. Kecewa? Tentu saja. Berbagai tanda tanya mengalir di benak saudari kita ini. Apakah saya tidak cantik? Apakah saya tidak menarik? Mengapa tak satu pun pria mengkhitbah? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengalir, dan perlahan mengikis rasa percaya diri. Sempat terbersit, bahwa mungkin selamanya ia akan sendiri. Di usianya yang ke-35, barulah ia mendapat jawaban. Setelah tujuh kali mendapat penolakan dari para pria yang coba dipertemukan dengannya, soulmate sejati pun datang. ”Saya menikah dengan pria yang baik. Kini saya tahu, kenapa saya harus melewati tujuh kali penolakan sebelum bertemu Mr. Right. Ya, agar saya tahu bahwa jodoh saya inilah yang terbaik, jauh lebih baik dari para pria yang tidak ditakdirkan untuk saya itu.”
Sahabat, saat proposal kita ditolak, tidak berarti kita buruk. Ditolak cinta, bukan berarti kita tidak cantik dan tidak layak dicintai. Setiap orang punya sisi cantik kok. Demikian pula bila gagasan atau hasil kerja kita ditolak, bukan berarti kita buruk dan tidak layak sukses. Mungkin penolakan yang kita alami, hanyalah suatu liku yang mesti kita lalui untuk mencapai hasil terbaik. Terbaik menurut versi-Nya, bukan versi kita. Penolakan hanyalah uji ketabahan, yang akan mengangkat grade kita bila dapat melaluinya dengan sikap positif.
Ditolak memang menyakitkan. Seperti mungkin Anda, saya pun pernah merasakannya. Ceritanya, baru-baru ini seorang tokoh selebriti berencana memakai jasa konsultasi kepenulisan saya untuk menyusun buku dan company profile. Saya dan tim sudah sepakat untuk menerima tawaran kerja sama ini. Aspirasi sudah dipahami, anggaran sudah dinegosiasi, perjanjian sudah ditandatangani. Namun, saat tiba pelaksanaannya, mendadak banyak tuntutan dari klien saya ini. Wah, kalau begini sih, bisa-bisa ribet urusannya, pikir kami. Karena kami tak bisa memenuhi semua tuntutan itu, tokoh ini membatalkan kerja sama. Saya kaget, dan sempat kecewa, mengingat proyek sudah setengah jalan, telah begitu banyak waktu dan tenaga terbuang. Dengan rasa optimis yang agak terkikis, saya tetap berpikir positif. Saya mencoba meyakinkan diri, bahwa ini bukan kesalahan kami. Bahwa ini jalan terbaik. Bahwa bila diteruskan, ini hanya akan menyusahkan. Bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Dan ya, benar saja. Tak berselang lama, tokoh selebriti lain mengontak. Bukan hanya satu yang ingin kerjasama, tapi tiga sekaligus!
Sahabat, ada tiga hal yang bisa diambil dari sini. Pertama, penolakan bukanlah personal attack (serangan pribadi). Saat orang menolak kita, dia tidak sedang menolak DIRI kita, tapi sesuatu di luar kita seperti: pekerjaan kita, situasi lingkungan, dsb. Jadi tidak perlu menyalahkan diri sendiri saat penolakan terjadi. Katakan pada diri anda, ”Saya tidak buruk kok, pekerjaan sayalah yang mungkin belum optimal di matanya.” Atau, "Saya tidak buruk kok, mereka saja yang terlalu banyak menuntut."
Kedua, selalu ada alasan dibalik penolakan. Caritahu kenapa orang lain menolak diajak pergi, misalnya. Bisa jadi karena timing-nya yang tidak tepat (cuaca buruk, dia sedang sakit/malas pergi, dsb), cara mengajaknya yang tidak tepat (kurang serius, tujuan pergi tidak jelas, dsb). Jangan dulu merasa down sebelum benar-benar tahu alasan sesungguhnya dibalik penolakan.
Ketiga, renungkan hikmahnya. Mungkin dengan ditolak, sejuta kebaikan menunggu kita. Jadi daripada terus memikirkan situasi negtif yang muncul akibat ditolak, lebih baik pikirkan kebaikan apa yang kita peroleh dengan ditolak, atau keburukan apa yang kita peroleh bila kita tidak ditolak. Seperti cerita saya, batalnya kerjasama justru menghindarkan saya dari sebuah proyek yang rumit, yang mungkin akan menuguras emosi dan tenaga, sementara hasilnya tidak seimbang. Juga seperti cerita wanita di atas, kalau tidak ditolak oleh para pria sebelumnya, mungkin ia takkan pernah mendapat pasangan hidup yang terbaik buat dirinya.
Sahabat, bagaimana, berani ditolak? Ya, harus. Kalau memang kita ingin bisa seperti Jack Canfield, yaitu dengan sering ditolak kesuksesan akan semakin dekat, maka penolakan sebanyak apapun seharusnya tidak membuat kita surut. Malah membuat kita gembira, karena penolakan membuat kita berpikir tentang apa yang salah dan harus diperbaiki. Penolakan membawa kepada perbaikan dan mawas diri. Ditolak membuat kita lebih sungguh-sungguh namun juga berhati-hati. Ditolak membuat kita lebih cakap, lebih kuat, dan lebih bijak.
Jadi, saat kita mendapat sebuah penolakan, apa yang mesti dikatakan? Ya, katakan saja: ”Terima kasih telah menolak saya! Terima kasih telah membuat saya jadi kuat dan membawa keberhasilan saya selangkah lebih dekat ”
Copyright@2009 by Elie Mulyadi. Artikel ini ditulis untuk dimuat di majalah Hidayah
Rabu, 04 November 2009
Terima Kasih Telah Menolak Saya!
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






2 komentar:
salam sahabat
ehm..kakElie memang bener-bener membuat saya mendapatkan inspirasi yg tepaaat banget..thnxs n good luck ya kak...
sama2, Rihar. Moga tetap semangat ya...gimana kabarnya di hongkong?
Poskan Komentar