Jumat, 08 Januari 2010

Pohon Cinta


oleh: Elie Mulyadi

Selalu ada pohon yang menaungi kita dengan cinta
Meski terkadang kita melupakannya


Akisah, ada sebuah pohon apel yang besar. Seorang anak laki-laki senang bermain-main di pohon itu. Ia bermain setiap hari, memanjat pohon itu, memetik buah apelnya, dan tidur di bawah pohon itu. Ia menyukai pohon itu, dan sang pohon juga senang bermain dengannya.

Waktu berlalu. Anak lelaki itu tumbuh besar dan tak lagi bermain di pohon itu. Suatu hari, ia mendatangi pohon itu dengan wajah murung. "Ayo bermain bersamaku," kata sang pohon.

"Tidak. Aku bukan anak kecil lagi,” kata si anak. ”Aku tidak mau bermain bersamamu lagi. Aku ingin beli mainan saja. Tapi aku tak punya uang.”

"Maaf, aku tak bisa memberimu uang. Tapi kamu bisa memetik buah apel-apelku dan menjualnya supaya bisa dapat uang,” kata sang pohon.

Anak lelaki itu gembira dan memeluk pohon apel itu, lalu pergi dengan riang. Sang pohon merasa sedih karena setelah memetik apel-apelnya, anak lelaki itu tak pernah datang lagi.

Suatu hari, anak lelaki itu kembali. Dia sudah tumbuh dewasa. Sang pohon merasa gembira. ”Ayo bermain denganku,” katanya. Anak lelaki itu menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku tak punya waktu untuk bermain-main. Aku harus kerja untuk membiayai keluargaku. Kami butuh rumah buat tinggal. Kau bisa menolongku?”

"Maaf, aku tidak punya rumah. Tapi kamu bisa memotong cabang-cabang pohonku untuk membangun rumahmu.”

Anak lelaki itu segera menebang cabang-cabang pohon itu dengan gembira, kemudiania pergi dan tak datang lagi. Sang pohon merasa sedih, sendirian dan kesepian.

Suatu hari, anak lelaki itu datang lagi. Sang pohon merasa gembira. “Ayo bermain denganku,” katanya. Anak lelaki itu berkata, "Tidak. Aku sudah tua. Aku ingin pergi berlayar untuk menangkan diriku. Bisakah kau memberiku perahu?”

"Pakailah ranting-rantingku untuk membuat perahu. Kamu bisa berlayar jauh dan menenangkan diri.”

Anak lelaki itu pun menebang ranting-ranting pohon untuk membuat perahu. Ia pergi berlayar jauh dan lama tidak kembali.

Akhirnya, suatu hari anak lelaki itu kembali setelah bertahun-tahun perg. Sang pohon berkata dengan sedih, “Maafkan aku, aku tak punya apapun lagi yang bisa kuberikan untukmu. Tak ada lagi buah apel untuk dimakan. Tak ada ranting untuk dipanjat. Aku sungguh tak punya apapun. Satu-satunya yang tersisa cuma akar-akarku yang sudah tua,” kata sang pohon dengan berlinang air mata.

"Aku tak butuh apapun,” jawab si anak. ”Aku hanya butuh tempat istirahat. Aku sudah tua dan lelah sekali belakangan ini.”

"Bagus! Akar-akar tua adalah tempat terbaik untuk istirahat. Duduklah dan tidurlah di sini.”

Anak lelaki itu pun duduk dan tidur di akar pohon itu. Sang pohon tersenyum sambil meniitikkan air mata. Meskipun sudah begitu lama si anak tidak mau bermain dengannya lagi, dan hanya datang untuk pergi, namun di masa tuanya, ia masih bisa memberi.

Sahabat, cerita ini dikirim oleh seorang teman. Kalau direnungkan, cerita ini adalah cerita tentang kita semua. Sang pohon apel adalah orang tua kita.

Ya. Ketika masih kecil, kita senang bermain dengan kedua orangtua. Saat tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan kembali hanya bila kita sedang butuh atau menghadapi masalah. Namun apapun yang terjadi, orang tua kita akan selalu ada, siap memberi apapun yang mereka miliki untuk membuat kita bahagia. Mungkin Anda berpikir, betapa kejamnya si anak lelaki dalam cerita ini, tapi begitulah cara kita semua memperlakukan kedua orang tua kita, bukan?

Sahabat, di balik keberhasilan setiap orang, dalam bidang apapun itu, selalu ada yang mem-backup di belakangnya. Bisa saja kita mengatakan, orang yang paling berjasa dalam hidup saya adalah si A atau si B. Namun kita tak bisa memungkiri, orang yang paling berjasa dan paling banyak mendorong kita untuk sukses adalah orang tua. Dari rahim ibu-lah kita berawal. Bersama ibu-lah kita tumbuh dan mulai merangkai kisah hidup di dunia. Dengan sentuhan dan kelembutan seorang ibu, kita merasa dicintai dan tumbuh percaya diri. Dengan kekuatan dan kerja keras seorang ayah, kita diberi fasilitas untuk hidup dan tercukupi. Cinta kasih orangtua adalah pintu terbaik untuk kita melangkah ke gerbang masa depan. Doa orangtua yang digenangi tetesan air mata, adalah modal terbesar untuk kita menapaki tangga-tangga kesuksesan. Tanpa mereka, kita bukan siapa-siapa, hanyalah makhluk tanpa nama, atau bahkan mungkin tak pernah ada di dunia.

Akan tetapi, seperti halnya kisah anak lelaki di atas, kita kerap tak menyadari bahwa ’orangtua lah di belakang semua ini’. Tidak jarang orang mengatakan, ’kesuksesan saya adalah murni hasil kerja keras saya’. Sungguh pernyataan yang egois. Meniadakan peran yang begitu besar, hanya demi terdengar hebat. Padahal apalah artinya kita tanpa campur tangan orangtua. Bahkan Rasulullah SAW, sang pemimpin agung, orang paling sukses di dunia sepanjang zaman, tidak pernah menghilangkan peran kedua orang tua. Beliau justru sangat memuliakan keduanya. Ketika seorang sahabat bertanya, ”Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”, beliau menjawab: "Sholat pada waktunya.” Kemudian apa? Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua". “Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah". (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Begitulah, beliau menganggap memuliakan kedua orang tua lebih besar nilainya dibanding jihad sekalipun!

Bagaimana dengan kita? Sudah seberapa besar kesuksesan kita? Ada orang-orang yang baru sukses sedikit saja, sudah begitu menganggap hebat dirinya, dan melupakan peran orang-orang di belakangnya. Jangan sampai kita termasuk orang yang seperti itu.
Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak menjadi orang yang melupakan jasa kedua orang tua?

Orang tua kita, pada umumnya berhati sangat mulia dan bijaksana. Meskipun sudah bekerja keras sepanjang usia demi kita, mereka tak sedikitpun mengharap balasan jasa. Asalkan sudah melihat anak-anaknya tumbuh dan hidup bahagia, itu sudah cukup. Itulah cinta tanpa syarat (unconditional love). Baik-buruk seorang anak, soleh-jahat seorang anak, sukses-gagal seorang anak, orangtua tetap mencintainya. Meski seringkali anak berbuat sesuatu yang jauh dari harapan, orang tua hanya bisa menerima dan mendoakan. Ketika anak datang dengan kebahagiaan, mereka ikut bahagia. Ketika anak datang dengan kesedihan, mereka sebisa mungkin menghiburnya. Ketika anak datang dengan kesengsaraan, mereka berusaha menghilangkan deritanya. Doa dan air mata selalu tercurah di saat anak sedih maupun gembira.

Mereka hanya memberi, tak pernah berharap kembali!

Suatu kali, saya pernah bertanya kepada ibu saya, bagaimana cara saya membalas kasing sayang dan jasa beliau. Saya tahu, pekerjaan itu mustahil terwujud karena apapun yang saya lakukan tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih sayang dan jasa beliau. Tapi paling tidak, kalau saya tahu apa yang diinginkan ibu dari saya, saya akan bisa menyenangkan hatinya. Dan di sanalah ibu menatap saya dengan penuh cinta. Beliau tersenyum seraya berkata, ”Kalau kamu mau membalas jasa Mamah, jadilah seorang istri yang baik bagi suamimu, dan ibu yang baik bagi anak-anakmu.”

Subhanallah. Saya menangis saat itu. Sadar bahwa betapa agungnya ibu saya, betapa mulia hatinya. Jangankan beliau meminta dibalas jasa, menerima jasa saja tidak mau, dan malah menyuruh saya untuk meneruskan saja jasa itu kepada keluarga kecil yang tengah saya bangun. Benar kata pepatah, kasih anak hanya sepanjang galah, sedang kasih ibu sepanjang jaman. Ibu saya adalah buktinya.

Mungkin kita sering berpikir, ’ah, masa kecil saya tidak bahagia’. Kita mengenang saat-saat ketika orang tua memarahi kita dan menyuruh kita melakukan hal-hal lain yang tidak kita sukai. Kita menyalahkan orangtua atas berbagai kejadian buruk yang menimpa kita di masa kecil, membentuk psikologis kita di masa remaja, dan mempengaruhi keberhasilan kita di masa dewasa. Kita mengaitkan ketidak berhasilan saat ini dengan perlakukan orang tua di masa lalu. ”Kalau saja dulu orang tua menyekolahkan saya sampai tamat, pastilah sekarang saya jadi orang hebat!” ”Gara-gara dulu orang tua selalu memarahi, sekarang saya jadi tidak percaya diri, dan selalu gagal dalam karir.” Sungguh ini pernyataan yang tidak adil. Orang tua telah bersusah payah membesarkan kita, dan mereka-lah yang dijadikan kambing hitam atas semua kegagalan kita.

Orang tua memang terkadang berlaku keras kepada kita. Namun itu pasti tidak disengaja, dan hanya merupakan ’produk’ didikan leluhurnya di masa lalu yang terpaksa diturunkan kepada anak-anaknya. Perlakuan keras mereka juga terkadang hanya suatu cara untuk mengungkapkan rasa cinta, dan kita sering terlalu egois untuk memahaminya. Cara terbaik adalah memaafkan mereka, sebagaimana orang tua selalu memaafkan kita meskipun tanpa diminta.

Jadi, meskipun kita tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orang tua, setidaknya kita bisa MEMBUAT MEREKA TERSENYUM. Bila kita sukses, sebutlah selalu nama mereka sebagai orang yang paling besar jasanya dalam keberhasilan kita. Bila kita gagal, jangan kaitkan mereka dengan kegagalan kita, namun introspeksi dirilah apa yang salah dengan cara kita. Dan yang ketiga, tebarkanlah cinta kasih mereka kepada orang-orang di sekeliling kita, terutama keluarga kita. Seperti kata Ibu saya, untuk membalas jasa orang tua, jadilah orang tua yang baik bagi generasi selanjutnya.

Nah, sahabat, di tengah kesibukan mengejar keberhasilan, hari ini saya akan menyempatkan diri untuk pulang. Sungkem kepada orang tua, memeluk mereka, dan meminta maaf atas segala dosa. Saya ingin melihat wajah-wajah yang tersenyum senang melihat putrinya pulang. Meskipun saya tidak membawa hadiah indah, saya percaya, kehadiran saya saja sudah cukup membuat hari-hari mereka menjadi cerah. Karena, cinta orang tua adalah cinta yang sederhana. Cinta yang tidak menuntut balas. Balasan terbaik dari kita adalah membalas kerinduan mereka. Seperti pohon apel yang selalu rindu bermain dengan si anak lelaki, begitulah orang tua kita. Mereka adalah pohon cinta. Mereka selalu merindukan kita, dan selalu ada di sana untuk menerima kehadiran kita, dalam keadaan suka maupun duka. Mereka selalu menunggu kita, untuk datang dan mengucapkan, ’ayah, ibu, saya menyayangi kalian berdua.’ Dan mereka akan menyambut dengan cinta.

Ya Allah, semoga kesempatan itu masih ada.

Artikel ini ditulis untuk Majalah Hidayah. Dipersembahkan untuk Mamah dan Bapa: Terima kasih telah mencintai saya dan selalu menunggu kehadiran saya, di rumah masa kecil yang penuh kenangan.


2 komentar:

muhammad mengatakan...

saya kutip kisah inspirasinya di http://www.wartaislam.com minggu ini.

aris mengatakan...

setelah membaca ini sy langsung menangis....karena sejak mulai diterima kerja di pemkot cimahi sy sudah tidak tinggal dengan ibuku tercinta