
Suatu hari saya ditelepon oleh bagian promosi penerbit Gramedia. Saya diberitahu untuk mengisi acara ramadhan di sebuah radio Jakarta, kali ini RRI Pro 2 FM 105,00. Di acara ini saya akan berbicara tentang 4 buku saya yang diterbitkan Gramedia, yaitu Kerjaku Ibadahku, Ramadhan di Musim Gugur, Menemukan Impian Hati, dan Buku Pintar Keluarga Sakinah. Sebagaimana biasa, untuk urusan ini saya selalu setuju dan siap anytime. Tapi entah mengapa kala itu mbak 'promosi' mengontak saya ketika saya sedang di luar Jakarta, jadi jadwal siaran diundur ke pekan depannya, tgl 3 Agustus 2010.
Sebetulnya, Pro Resensi yang akan saya datangi ini adalah program bedah buku yang disiarkan secara “live” setiap minggu jam 14.00 -18.00 wib. Namun sebelumnya mbak 'promosi' mengatakan, "nanti acara dikau taping ya." Taping berarti rekaman alias tidak siaran langsung. Dengan santai saya pun mengiyakan.
Sehari sebelum taping itu, saya tidak sengaja lewat di Detos, mal favorit saya, sambil menekuni hobi candu saya: hunting buku. Eh, tak sengaja lewat di depan sebuah counter baju. Ada baju yang modis bergaya baby doll, dan pas buat ukuran saya, harganya murah banget...Rp 90.000,-. Penjualnya seorang engko, senang banget saya beli 2 potong baju yang tak sampai Rp 200.000,- itu. "Nanti datang lagi ya, siapa tau ada koleksi baru yang cocok buat mbak," katanya. Dia pun menerima uang dan tersenyum senang.
Besoknya salah satu baju itu saya pakai untuk siaran. Selama ini kalau saya siaran di radio selalu memakai baju yang sederhana, yang penting pantas dan cocok dengan karakter saya. Saya pun malas memakai makeup, karena toh takkan ada yang peduli pada penampilan saya. Yang akan dipedulikan adalah suara dan gagasan2 saya tentunya. Di studio taping, saya disambut oleh mbak Lia Achmadi, yang sudah tampil cantik dengan busana tunik birunya, plus makeup yang apik. Wah, saya jadi malu sudah tampil terlalu biasa. Mbak Lia yang baru pertama kali saya temui ini ternyata adalah presenter acara ProResensi. Bersama dia saya akan membedah keempat buku saya yang tentunya perlu waktu taping cukup lama. Senang karena dia orangnya sangat ramah.
Tapi yang mengagetkan saya, mbak Lia tiba2 bilang, "Mbak Elie, sesi pertama kita akan taping untuk acara Literasi Ramadhan ya."
"Oke," kata saya dengan sumringah.
"Ini acara TV. Akan disiarkan di seluruh jaringan TV lokal di Indonesia, 30 stasiun TV," jelasnya.
"Oke," jawab saya sambil tersenyum. Sedetik kemudian saya tersentak, "Apa? Jadi ini bukan taping untuk acara radio?"
Mbak Lia tertawa melihat kekagetan saya yang spontan. "Untuk acara TV, mbak," katanya. "Kita akan bedah salah satu buku mbak. Nah, setelah itu, barulah kita akan bedah buku yang tiga lagi untuk acara radio. Pemandunya nanti mas Wira."
Sebentar, ujar saya dalam hati. Rasa-rasanya saya tidak tahu kalau ini untuk acara TV. Apakah mbak 'promosi' yang lupa menyebutkan, atau saya yang tidak ngeh saat beliau menjelaskan? Duhhh, bagaimana ini? Saya belum siap tampil nih, terutama karena baju saya...oh Tuhan...apakah nanti saya akan pantas dilihat? Oke, ini cuma buat tayang di TV lokal, tapi kan, bisa jadi 30 stasiun akan menayangkannya. Gimana reaksi suami, bapa, mamah, kakak, adik, dst bila kebetulan memergoki saya tampil 'menggelikan'?
Mungkin saya terlalu GR, tapi gimana nanti kalau dilihat teman-teman dalam keadaan seperti ini? Bayangkan, baju yang saya pakai sebetulnya kedodoran dan saya akan tampak seperti wanita hamil di layar. Saya tahu, kalau kita tampil di tv, bobot akan kelihatan naik 5 kilogram, gimana kalau pakai baju model 'hamil' begini....???? Tak terbayang, sungguh seperti apa rupa saya nanti. Udah gitu, tanpa makeup lagi, dengan kerudung hitam murahan seharga Rp 10 ribu yang saya beli dari pasar kwitang 5 tahun lalu. Duhh...disaster. Rasanya mau balik lagi ke rumah, mencari pakaian yang lebih pantas. Sayang, sudah tak ada waktu lagi. Taping akan segera dimulai.
Akhirnya dengan kepasrahan total, jadi juga taping-nya. Yah, semoga saja meski penampilan amburadul, tidak demikian dengan bedah bukunya. (Atau harapan saya berlebihan ya? Soalnya pas mau taping, saya dan mbak Lia sempat 'bersengit ria' tentang buku saya yang mana yang akan ditampilkan di acara TV!) Duh, bencana banget deh rasanya. Tapi untunglah, keberantakan itu terbayar ketika taping sudah dimulai. Mbak Lia begitu pandai mengarahkan diskusi sehingga saya merasa enjoy berbicara. Apalagi setelah itu acara dipandu oleh mas Wira, presenter muda yang alim tapi kocak, wah, acara diskusi jadi berlangsung seru dan asyik banget. Alhamdulillah...
Satu harapan saya, moga ini menjadi pengalaman yang berharga buat saya agar lebih siap baik fisik maupun mental lain kali. Because we never know when something good or bad will come to us and change everything....
Sabtu, 07 Agustus 2010
Taping Ramadhan yang 'Malu-Maluin'
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






0 komentar:
Poskan Komentar