Selasa, 05 Oktober 2010

Jangan Takut Berkomitmen Untuk Cinta


Oleh: Elie Mulyadi

Tak terasa sudah lebih dari 5 tahun saya mengisi rubrik Himmah ini. Selalu ada kilasan semangat di dalamnya. Kata ‘sukses’ senantiasa menjadi kunci bahasan kita. Kalau boleh, mari sejenak lupakan kata itu. Kali ini saya ingin berbicara tentang cinta, sesuatu yang insya Allah siapapun suka, sebab lahirnya dari kedalaman jiwa.

Dalam beragam kesempatan, banyak sahabat bertanya, atau sekedar bercurah hati: “cinta itu menyenangkan, namun komitmen di dalamnya terlihat menyesakkan,” “Kata cinta tak selalu indah terasa, sebab ada tanggung jawab besar di dalamnya.” Jadi saat saya berucap, “ayo cepat menikah, menikah itu bisa jadi pondasi semangat lho,” akan selalu ada yang berkomentar, “memangnya mudah?” “saya kan belum siap,” “saya belum mapan,” “saya belum punya apapun untuk ditawarkan kepada pasangan saya,” “saya takut pasangan saya kelak menderita,” atau “ah, lupakan saja.”


Begitulah. Kata ‘menikah’ tak jarang membersitkan rasa takut. “Saya sudah punya cinta, namun saya TAKUT menjemputnya,” “Saya ingin mengemban amanah itu, menyempurnakan tiang agama, namun TAKUT tak bisa jadi pasangan sempurna.” Yang intinya adalah rasa takut. Takut akan komitmen. Takut akan tanggung jawab.

Sahabat, tak ada sesuatu yang dimulai dari lompatan besar. Berhitung selalu dimulai dari angka satu, atau bahkan nol. Berlari selalu dimulai dari garis start. Kehidupan selalu dimulai dari kelahiran bayi yang polos. Begitupun kebahagiaan, selalu dimulai dari perjuangan, penderitaan. Tak ada dua insan yang sempurna ketika memulai sebuah ikatan pernikahan. Selalu ada tahap awal pengenalan, penjajakkan, kemudian perjuangan untuk menjadikan ikatan itu erat. Selalu ada problema yang memicu keretakan, namun setiap kali masalah datang, ikatan pun menjadi semakin kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Itulah hakikat cinta.

Izinkanlah saya sedikit bercerita.

Tujuh tahun yang lalu, ada seorang gadis muslimah yang merasakan panggilan hati untuk menggenapkan separuh tiang agama. Seorang pemuda muslim telah mengkhitbahnya. Namun ia ragu, inikah saat yang telah dinanti seumur hidup itu? Menikah, ya, setiap gadis sejak kecil selalu memimpikannya. Sebuah pesta pernikahan yang seindah dalam dongeng. Namun jangankan menggelar pesta meriah, membiayai hidup sehari-hari di kota Jakarta pun susah. Dia tidak punya apa-apa. Tak ada sepeserpun uang untuk biaya pernikahan. Sebab menikah selalu perlu biaya, bukan? Kedua orangtuanya pun tidak kaya. Saat dikabari anak gadisnya akan menikah, mereka terpana, antara bahagia dan gundah. Darimana uangnya?

“Mama tidak usah cemas,” ujar gadis itu akhirnya, setelah melewati perenungan dan istikharah yang panjang. “Takkan ada pesta meriah. Cukup selamatan saja. Yang penting semua kerabat hadir untuk memberi doa.”

“Apa tidak apa-apa?” cemas bundanya. “Kamu kan putri satu-satunya. Seharusnya ada pesta. Bagaimana nanti perasaanmu? Apa kata para tetangga? Mama akan malu…”
Dengan senyum, gadis itu pun menepis keraguan di mata sang bunda. Enam bulan kemudian setelah masa taaruf dengan pemuda pilihan hatinya, akad nikah pun digelar. Tak ada kemeriahan acara, apalagi gemerlap pesta. Tak ada hingar bingar pertunjukan musik, hanya irama degung yang mengalun lirih. Tak ada prasmanan mewah, hanya makanan sekedarnya. Tak ada baju pengantin bertabur intan, hanya pakaian sepantasnya. Bahkan tak ada kursi pelaminan bertabur bunga, kedua mempelai menyambut tamu sambil duduk di lantai!

Begitulah kemeriahan pernikahan di rumah sederhana itu. Tujuh tahun yang lalu.
Para tetangga bertaut alis, mengapa sebuah walimah digelar sesederhana itu. Para kerabat berkasak-kusuk, sungguh malang nasib sang mempelai perempuan. Para sahabat bertanya-tanya, mengapa??? Pernikahan adalah momen satu kali seumur hidup, seharusnya itu tak cukup. Para kawan yang gemar berprasangka, langsung menyelidik: jangan-jangan ini hanya supaya sah, demi menutupi ‘aib’ yang terlanjur basah. Semua orang sibuk merangkai logika.

Gadis muslimah itu menghadapinya dengan senyum…tapi juga air mata. Senyum karena ia telah menemukan pasangan jiwa untuk bersama mengarungi hidup. Air mata karena tak tahan melihat bundanya berjuang menutupi kesedihan. Bunda mana yang ingin putrinya menikah tanpa kesan?

“Ma, Fatimah, putri Rasulullah saja tidak meriah saat walimah. Mengapa saya harus?” ujarnya. Namun sang bunda terus berlinang air mata. Kesedihan dan penyesalan itu berlangsung hingga lama sesudahnya. Setiapkali menghadiri undangan perkawinan, bundanya selalu menangis, “Neng, andai dulu pernikahanmu semeriah itu…”

Si gadis bersedih setiapkali bundanya mengulas masa lalu. Namun cinta selalu menjadi penghibur. Pernikahan yang diawali dengan airmata, alhamdulillah, tak sampai mengikis rasa syukur. Ia pun melangkah ke dunia baru dengan harapan. Bukankah niat yang baik disertai cara yang baik akan bermuara pada akhir yang baik? Itulah yang ia jadikan pegangan. Bersama kekasih hatinya, ia pun mulai mengayuh bahtera.

Mereka memulai ‘perjalanan’ itu. Bukan dari garis start, namun dari garis minus. Banyak kesedihan yang ditinggalkan seusai acara pernikahan. Sang gadis dan pemuda sama-sama berasal dari keluarga sederhana. Tak ada yang bisa dijadikan sandaran. Usai silaturahim pernikahan, mereka harus kembali ke Jakarta, mencari penghidupan sendiri. Mengontrak di sebuah kamar sempit, di kontrakan kecil bersama puluhan penghuni lain. Sang istri bekerja sebagai dosen muda yang tiap bulan dipotong gaji, sang suami jadi PNS dengan penghasilan minimalis. Utang menumpuk, masa depan bak tertutup kabut. Demi membayar utang untuk biaya nikah, sang istri terpaksa menjual cincinnya yang indah. Cincin bermata biru yang seharusnya disimpan sebagai mahar.

Tak ada bulan madu yang meriah, hanya naik perahu bebek di Ancol dengan harga tiket Rp 10.000. Jangankan wisata ke Disneyland di Hongkong, atau ke Universal Studios di Singapore. Wisata ke Dufan saja tak mampu bayar tiket masuk. Tak ada uang, tak ada kelayakan. Yang ada hanya cinta dan harapan. Namun itulah yang menghidupkan keikhlasan.

Bahtera selanjutnya dipenuhi gelombang pasang yang tak henti menerjang. Sang istri kehilangan pekerjaan, gaji suaminya yang tak seberapa pun dibagi dua. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Beragam pekerjaan dicoba, dari mulai guru privat sampai MLM – hasilnya bahkan tak cukup untuk makan. Ia mulai berbisnis, melanjutkan hobinya sejak masa kuliah. Berhasil? Justru disinilah dimulainya jatuh bangun itu. Berbagai jenis usaha yang dirintisnya perlahan bangkrut satu per satu. Ia mulai menulis buku, namun tak ada penghasilan layak dari situ. Kemiskinan masih jadi identitas, namun cepat atau lambat ingin dilepas. Melebihkan upaya, menggenapinya dengan doa, hanya itu yang bisa dilakukannya. Dan dengan dukungan suami yang penuh cinta, sepahit apapun kenyataan hidup terasa amat indahnya.

Tak ada perayaan dalam ulang tahun perkawinan. Namun setiap kali selalu ada cerita. Ulang tahun yang pertama, menonton film di bioskop dan pulangnya naik kancil. Ulang tahun yang kedua, membeli motor, meski sudah tua dan sering ber’mogok ria’ saat kehujanan. Ulang tahun yang ketiga, mencicil rumah, meski kemudian ambruk karena berbahan bangunan murah. Sekecil apapun anugerah, dinikmati sebagai luapan berkah.

Waktu demi waktu berlalu. Keringat, air mata, pertengkaran, dan kesedihan menjadi bumbu dalam perjalanan itu. Namun cinta yang indah selalu bisa mengobati luka, menyempurnakan segala yang tidak sempurna. Ada saat-saat rasa cinta diuji, namun dengan komitmen kata itu tak pernah mati. Meski jalan berliku-liku, penuh onak dan berbatu, namun dengan cinta, sepasang insan bisa melewatinya.

Malam ini, saat tulisan ini dibuat, tak terasa angka 7 telah terpahat dalam usia pernikahan itu. Ya, tujuh tahun sudah berlalu sejak seorang gadis muslimah memutuskan untuk menyambut rahmat Ilahi bernama pernikahan. Rangkaian kabut kelabu itu kini telah berganti. Tak ada lagi air mata saat melihat seorang bunda menangis karena pernikahan putrinya digelar sederhana. Tak ada lagi utang menumpuk yang bagai gulungan kabut. Cincin mahar yang sempat dijual, kini terganti dengan cincin bermata biru yang lebih indah. Tak ada lagi jatuh bangun dan bangkrut, meski harus ada pun ia lebih siap mental menghadapinya. Tak ada motor tua yang hobi mogok dan rumah mungil yang ambruk. Yang ada adalah cinta sepasang insan yang semakin kuat setiap harinya. Dengan cinta suami, sang istri bisa menjadi apa yang diimpikannya selama ini. Menjadi seorang usahawan dan penulis yang bekerja dengan cinta. Menjadi seseorang yang bisa menebarkan semangat kepada mereka yang membutuhkannya. Berbicara di radio dan televisi, menebar karyanya di dalam dan luar negeri.

Begitulah kisahnya, dan muslimah dalam kisah ini tak lain adalah sang penulisnya.

Alhamdulillah. Semua atas izin Allah.

Bagi sahabat yang masih ragu, jangan ragu untuk menyambut cinta dan berkomitmen di dalamnya. Segala hal pasti akan terasa sulit pada awalnya. Namun saat terlewati, kita akan menyadari betapa banyak momen indah terjadi. Jangan takut menghadapi perjalanan panjang yang akan terasa pahit. Sepahit apapun perjalanan itu, selalu akan menjadi cerita yang indah untuk dikenang, menjadi penguat rasa cinta yang semakin tak terpatahkan.

Bagi sahabat yang sudah merangkai ikatan kasih, yuk kita sambut cinta dan segala tanggung jawab yang menyertainya. Percayalah, akan ada saat-saat menangis, namun akan ada saat-saat tertawa. Bagai prakiraan cuaca, akan ada saat-saat mendung dan hujan, akan ada saat udara penuh kehangatan. Seperti lirik lagu berikut:

I tried to find out
What love was realy all about
Behind the curtain waits the sky
It’s rare I feel enough to cry
I’m drying up inside
My life was open
like a window to the summer breeze
I breathed your love
I filled my lungs and veins
And I breathed your love
Until I met the pain and like rain it slipped away

(download lagunya di sini)

Copyright@2010 by Elie Mulyadi. Artikel ini ditulis untuk majalah Hidayah.

0 komentar: