Sabtu, 27 November 2010

Menangislah, dan Kau Akan Menjadi Kuat


Oleh:Elie Mulyadi

Pernahkah kamu ingin masuk ke kamar dan menangis sejadi-jadinya? Atau kamu ingin tidur lelap dan tak bangun-bangun? Kamu ingin pergi ke suatu tempat, menghilang, dan berharap tak pernah ada di muka bumi? Ya, itu namanya perasaan depresi. Setiap orang pernah mengalami, dan bagi yang belum, pasti akan mengalami. Kamu merasa inilah titik terendah dalam hidupmu, dan saat itu rasanya tak ada keinginan selain berlari sejuh mungkin. Berlari dari kenyataan. Atau seperti program komputer, rasanya ingin di-install ulang. Agar semua memori pahit itu lenyap seketika.

Di saat rasa sakit dan pahit melanda, baik itu karena kehidupan cinta yang menyedihkan, karena kehidupan sosial yang sepi tanpa teman, karena karir yang kandas di tengah jalan, karena bisnis yang tak menyisakan satupun kecuali berkas utang – depresi muncul ke permukaan. Rasanya tak sanggup melewati satu detik pun ke depan. Masa depan terasa gelap gulita. Tak ada cahaya. Apa yang harus dilakukan? Tak ada yang bisa dilakukan... Begitu seakan-akan.

Selalu ada sisi tergelap dalam kehidupan seseorang – seandainya kamu pernah mengalaminya, atau setidaknya, seandainya kamu percaya. Saya sendiri, ya, pernah. Bila melihat dari permukaan, orang akan mengira hidup saya baik-baik saja. Ceria, penuh canda. Di balik itu, di ceruk terjauh masa lalu, ada derita pahit yang membekas hingga kini, sulit terhapus dari boks memori. Saya masih ingat di saat sosok yang amat saya cintai meninggalkan dunia untuk selamanya, rasanya takkan ada derita lebih parah dari itu. Seakan ingin menangis sepuasnya, ingin tidur selamanya. Begitu dalamnya kepedihan yang menyelimuti, hingga seakan terjebak dalam ruang antara realita dan mimpi. Kerapkali rasa tak percaya hadir, benarkah ini terjadi? Lalu mengapa harus terjadi pada saya? Mendadak saya merasa jadi ‘objek’dari suatu skenario rahasia yang tak mampu saya pahami.

Itu perasaan saya ketika nenek dan paman* tercinta meninggal dunia. Banyak orang yang akan tertawa mendengar kata ‘nenek’dan ‘paman’ mengingat kedekatan kerabat yang tidak terasa terlalu kental. Namun bagi saya keduanya sosok tak tergantikan. They used to be my number one, orang-orang yang menjadi suporter pertama dalam memupuk keberanian saya menghadapi dunia. Apakah kamu juga pernah mengalaminya? Ditinggal sosok yang selama ini mendukung hidupmu, menjadi alasan bagimu lahir kedunia – sosok yang sama sekali tak pernah kaupikir akan meninggalkanmu secepat itu?

Tak terbayang bagaimana kepahitan para sahabat kita yang saat ini tengah dirundung ujian bencana. Orang-orang tekasih meninggalkan, tempat tinggal nyaman berganti camp-camp pengungsian. Bisakah esok hari tetap makan, berteduh, bernapas, hidup? Tak ada yang pasti, tak ada yang tahu. Luka fisik yang menganga, tak seberapa dibanding luka batin atas ketidakpastian yang nyata.

Takdir bicara melebihi kekuatan kita menjangkaunya. Di saat seperti ini, bolehkah hanya diam dalam lautan air mata? Salahkah menguras tetes demi tetes kepedihan, dosakah bersedu sedan? Ya, boleh saja. Bukankah air mata tercipta untuk membasuh luka? Asalkan setiap tetesnya luruh karena hati yang hanya berpaut pada-Nya. Asalkan setiap isak hanya tersedu untuk memohon kekuatan dari-Nya. Bukan tangis penyesalan, bukan tangis penggugatan, bukan tangis penyalahan atas takdir-Nya. Menangis adalah terapi terbaik. Menangislah, hanya jangan berlama-lama, sebab dibalik kepahitan, kebahagiaan sudah siap menunggu untuk disambut, bukan?

The miracle of tears


Orang sukses menangis. Orang besar menangis. Orang soleh menangis. Tak ada yang tidak pernah menangis. Bahkan Rasulullah pun, sang utusan Ilahi yang kesuksesan amaliyah-nya paling besar, yang masa depannya di surga paling terjamin, menangis. Hanya saja bedanya, ‘orang biasa’ menangis karena hal-hal biasa, ‘orang kecil’ menangis karena hal-hal kecil, ‘orang remeh’ menangis karena hal-hal sepele. SEDANGKAN orang-orang sukses, orang-orang besar, orang-orang berhasil, menangis karena hal-hal besar. Rasulullah saw menangis untuk sesuai yang agung. Beliau menangis di dalam shalat tatkala bermunajat kepada Illahi. Beliau juga menangis ketika mendengarkan tilawah Al-Quran. Tangisan yang bersumber dari ketulusan nurani dan kepasrahan total kepada Illahi.

Apa yang kita tangisi? Kesepian, kegagalan, kehilangan? Adakah yang lebih layak ditangisi daripada itu? Bila ya, tidak apa keluar air mata. Sebab dalam air mata ada obat penyembuh. Air mata memberi efek positif bagi kesehatan jiwa, karena menangis bisa meredakan rasa sedih, rasa tertekan, dsb. Ada sebuah penelitian di luar negeri yang membuktikan bahwa 85% wanita dan 73% pria berkurang kesedihan dan kemarahannya setelah menangis. Air mata bisa membasahi hati yang sedang kering, menyejukkan hati yang sedang terbakar oleh derita. Saat seseorang mengeluarkan air mata, dia sedang mengeluarkan racun dari tubuh.

Bukan mengungguli takdir Illahi, namun ada penelitian menunjukkan: orang yang lebih sering menangis memiliki rentang usia yang lebih panjang dari mereka yang jarang menitikkan air mata. Perempuan lebih kuat menjadi single fighter, karena lebih sering berurai isak dibanding laki-laki. Bisa dibilang, senjata perempuan adalah air matanya. Karena air mata berguna untuk menjaga agar hati tetap hidup. Agar langkah tetap kuat.

Saat air mata membasuh luka

Kepedihan, cobaan, ujian, apapun namanya, akan berlalu seiring waktu. Saat air mata telah terkuras, kita akan sadar, saat bersedih sudah habis. Setiap momen pahit akan berlalu. Tersapu waktu. Jikapun waktu tak bisa menjanjikan kesembuhan, setiap luka akan menjadi alarm pengingat bahwa kita pernah merasakan suatu pengalaman berharga yang akan terkenang selamanya.

Dan, ya. Jadikan setiap kesedihan membuat dirimu kuat, jauh lebih kuat dari yang kamu duga, jauh lebih kuat dari yang orang kira, jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Caranya:

Admit it, it’s real
Terkadang kita tidak percaya, tidak benar-benar memahami apa benar tragedi ini terjadi? Kegagalan, kesedihan, kehilangan – rasanya itu hanya bisa terjadi pada orang lain, kan? Tidak demikian. Akuilah rasa sakit itu ada. Akuilah suatu ujian tengah melanda kita. Tidak perlu berpura-pura tak ada masalah. Jangan menyangkalnya karena ini nyata. Tidak perlu berjuang jadi superman yang kebal dari penderitaan, atau yang pantang menunjukkan kelemahan. Menangislah. Menangis sampai tertidur bila itu membuatmu lega. Nikmati kesedihan itu. Untuk sementara waktu. Anggap itu sebagai perhentian sementara untuk menyusun energi baru.

It’s not the end
Saat derita mengempas kita, itu bukan akhir dari segalanya. Perasaan manusia terus berganti, seiring detak waktu yang kian berlari. Di tengah gairah hidup yang memuncak, kita disentuh dengan takdir yang menyentak. Tidak apa. Segala duka hanya satu cara untuk menyadarkan bahwa kita hanya manusia. Sekalipun kejayaan sedang cemerlang, sekalipun sedang di atas awan, sesekali harus ‘turun kembali’ ke bumi, kan? Kepedihan mencolek kita, bahwa kita hanya makhluk kecil di hadapan-Nya. Jadi jangan berlama-lama. Biarkan diri tenggelam sejenak dalam rasa sedih, lalu bangun lagi! Buka jendelamu, di luar sana sinar matahari menghangat, siap menerangi harimu yang pekat. Banyak hal harus dilakukan, hidup harus terus berjalan.

Fall, then rise again
Setiap hal terjadi bukan tanpa alasan. Mungkin dengan cobaan yang datang, Allah menghendaki kita menjadi lebih kuat. Selalu ada rencana-Nya yang tak terjangkau nalar kita. Namun selama berprasangka baik, insya Allah akan ditemukan akhir yang baik. Namun percayalah, momen sepedih apapun akan berlalu seiring waktu, dan jadi pengalaman yang akan membentuk karakter, menempa diri kita, menjadkan diri kita pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.***

Copyright@2010 by Elie Mulyadi, artikel ini ditulis untuk Majalah Hidayah edisi Des 2010


2 komentar:

nana mengatakan...

alhamdulillah akhirnya bisa bertemu dengan mbak el meski lewat pesan elektronik.
saya adalah penggemar mbal el..saya suka membaca tulisan mbak el di rubrik himmah.karena dengan membaca tulisan mbak el, saya bisa lebih optimis dan berprasangka baik dalam menjalani hidup saya. padahal masalah yang saya hadapi sebenarnya sangat berat. tapi saya berusah ikhlas sehingga tidak lagi menjadikannya beban yang menghalangi kehidupan saya ke depan...mbak say sebenarnya juga suka menulis.meski masih kalah jauh dibanding mbak el..kalau mbak el berkenan bolehkah saya minta no. hape mbak el supaya saya bisa lebih akrab dan saya bisa meminta bimbingan? dan lagi supaya saya bisa sharing....
terima kasih mbak el jika berkenan membaca pesan saya ini... sukses ya mbak el...

ajengdewie mengatakan...

Wah, bagus banget mbak...

Betul itu, aku juga sering banget ngerasa depresi, menangis, dan setelah mencurahkan semuanya pada Yang Punya Hidup.. Insya Allah ngerasa lebih baik setelahnya..

Aku tau Allah sangat sayang pada kita. Dan semuanya nggak akan selamanya kelabu, yang pasti jangan pernah putus usaha, doa, dan tawakkal...

salam kenal mbak, aku kagum sama tulisan mbak.. pingin banget bisa nulis dengan menarik & inspiratif... ijin follow mbak..