Rabu, 14 September 2011

Permata Itu Bernama Rani Diky Chandra


Oleh: Elie Mulyadi | 15 September 2011 | 13:15 WIB

Kota Garut bercahaya sejak kehadiran sesosok permata.

Teh Rani, demikian panggilan akrab perempuan berbalut jilbab itu. Perempuan yang tidak hanya jelita dalam rupa, namun juga mampu memberi makna yang sesungguhnya akan kalimat ‘rahmatan lil alamin’. Teh Rani, dialah permata itu. Kehadirannya ibarat pelita…rahmat Illahi yang mampu menerangi dunia di sekelilingnya.

Tahun 2009, ia memulai langkahnya di kancah sosial. Mendampingi suami mengabdi pada masyarakat Garut. Memberi pelajaran politik yang amat berharga untuk dijadikan suri teladan. Di tengah ketamakan, korupsi, dan buncahan tipu daya, kehadirannya beserta sang suami, menjadi angin penyejuk yang mengabarkan berita baik bahwa di dunia ini masih terdapat orang-orang jujur. Bahwa masih ada sekeping hati nurani yang seputih salju di antara lautan hitam kemunafikan.

Ia tak pernah ingin jadi istri pejabat. Tidak seperti jutaan orang lain yang rela berkorban apa saja demi mendapatkan status itu. 3 kali ia dan sang suami dipinang untuk mencalonkan diri dalam pilkada: Bogor, Ciamis, Garut. Semua ditolak. Tapi kemudian ketika melihat Garut demikian carut marut dan perlu perubahan, ditambah si ‘peminang’ tampaknya tulus bervisi untuk membangun kabupaten yang tertinggal akibat mafia koruptor yang bercokol puluhan tahun itu, ia pun tergerak hati. Mungkin di sinilah ladang ibadah, pikirnya.

Pada tahun 2009, masyarakat pun resmi menyambut sang suami sebagai wabup (Wakil Bupati) — orang nomor 2 di Garut yang akan jadi batu sandaran untuk revolusi politik yang lebih baik.

Teh Rani pun tampil sebagai istri wabup, menyambut uluran tangan rakyat dengan kasih. Menebarkan cinta lewat peran dalam aktivitas sosial yang didasari tanggung jawab dan ketulusan.

Kecantikannya, kelembutan hatinya, kasih sayangnya pada sesama, menjadi penyejuk bagi setiap orang yang ada di dekatnya. Statusnya sebagai ibu pejabat, tidak merentangkan jarak, justru menciptakan romantisme kedekatan dengan rakyat. Kesederhanaannya menjadi buah bibir yang mencipta decak kagum. Ia istri pejabat, mantan artis sinetron, namun siapa sangka penampilannya yang memesona hanya tercipta dari balutan baju seharga rp 70 ribu!

Tak ada shopping tas branded atau pelesiran keluar negeri hanya demi menghabiskan dana anggaran, seperti yang jadi rutinitas para wakil rakyat di negeri ini. Ia lebih sibuk menyanyi dan berdakwah, menghibur masyarakat yang sedang kesusahan akibat beragam problema hidup.

Bila orang lain menjadi istri pejabat bahagia, ia malah sedih melihat rakyat yang tak sejahtera. Bila orang lain menjadi istri pejabat makin berlimpah materi, ia makin ‘tak punya’ karena sibuk berbagi. Ia turun ke desa-desa, mengulurkan kasih bagi warga yang papa, membantu meringankan beban mereka, tanpa sedikit pun meminta bantuan dari anggaran pemda. Semua dilakukannya sendiri, atas kemauan dan kemampuan sendiri, dengan dana sendiri. Ia bahkan rela ‘mengamen’ ke jalanan demi menghimpun dana bantuan. Ia berdiri di garis terdepan dalam membantu penderita thalasemia, menanggulangi korban bencana alam, memberantas buta huruf, hingga memberdayakan perempuan dan anak terkait masalah trafficking dan KDRT. Totalitasnya dalam berjuang untuk masyarakat terpinggirkan begitu mendalam. Semua dilakukannya semata karena ikhlas, bukan politis. Tak heran bila masyarakat menyebutnya ‘indungna barudak Garut’. Indung berarti ibu, sosok penuh cinta dan tanggung jawab dalam melindungi ‘anak-anak’nya dunia akhirat.

Kiprah yang tak kenal lelah, selalu akan berbuah. Bersama sang suami, ia membawa harum nama Garut di kancah nasional. Giat memperkenalkan eksotisme Garut di berbagai media, termasuk sinetron, dll, sehingga mendorong peningkatan pendapatan daerah dari sektor pariwisata hingga dua kali lipat! Ia juga berhasil mengangkat tokoh Garut bernama RA Lasminingrat sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia.

Demikianlah, tak akan cukup menggambarkan sosoknya dalam kata-kata.

Sayang seribu sayang, banyak pihak merasa tak senang. Akan perjuangannya, akan ketulusannya. Karena ia cantik, ia masih muda, dan ia adalah istri yang mendukung suami untuk berkata TIDAK pada praktek korupsi. Mereka yang tak senang dan merasa dihalangi, membuat seribu satu cara untuk menciptakan tekanan, melontarkan fitnahan.

Seberapa kuatkah ia bertahan?

Rani adalah mutiara dalam lumpur. Ia ingin lumpur jadi mutiara, namun ternyata tak bisa. Sudah terlalu pekat. Kalau terus bersikukuh, ia malah akan terbenam ke dalamnya. Tidak! Ia tak ingin ikut tercebur. Visinya bersama sang suami sejak awal dibangun di atas janji perubahan. Hanya untuk rakyat. Bila hanya akan terbawa arus, lebih baik mundur.

Ia berkaca pada Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah SAW, yang rela mundur dari jabatan pemimpin karena fitnah dan suudzonisme sudah berurat akar di masyarakat, yang pada akhirnya berujung pada pertumpahan darah. Demi kebaikan semua pihak, mundur adalah jalan satu-satunya.

Dua setengah tahun ia berjuang. Dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati. Dan hari ini, 14 September 2011, atas dukungan dan hasil istikharahnya yang panjang, sang suami resmi mundur dari jabatan Wakil Bupati. Rani menangis, bukan karena sesal atas kehilangan status, tapi sedih karena akan meninggalkan masyarakat yang ia cintai dan mencintainya.

Ia berjanji, meski tak lagi jadi istri pejabat, perjuangannya akan terus berlanjut untuk Garut. Ia akan tetap aktif di yayasan penyandang Thalasemia, memimpin Gerakan Rela untuk Mereka, dan bahkan akan mengembangkannya ke daerah-daerah lain.

Istri wakil bupati sudah mati, tapi peran Rani takkan pernah berhenti. Meski tak lagi jadi ratu bertatahkan mahkota, ia akan tetap menjadi ‘ratu hati’ bagi masyarakat Garut tercinta.

Ya. Ia akan tetap menjadi sesosok permata. Kemilau seperti awal kedatangannya, demikian jualah kepergiannya.

Rani Permata Diky Chandra…Garut akan selalu bertabur cahaya ketika menyebut namanya.

***
Catatan:
Untuk menggali inspirasi dari perjuangan Teh Rani Permata, juga membuka secara blak-blakan alasan beliau mendukung mundurnya kang Diky Chandra dari jabatan politik, saya menuliskan mini-biografinya dalam buku “Top 10 Women in Garut” yang insya Allah akan rampung akhir September ini. Mohon doa dari semuanya ya. Silakan disebarkan.

0 komentar: