Liburan 4 hari 3 malam dengan budget hanya Rp 6 juta
Oleh: Elie Mulyadi
“Anniversary mau ngapain ya?” itulah pertanyaan yang terlintas di benak saya dan suami menjelang ulang tahun pernikahan kami. Nonton film, makan malam romantis, atau sekedar masak di rumah sambil muhasabah berdua, sepertinya sudah pernah kami lakukan sebelumnya. Ingin sesuatu yang beda, akhirnya kami putuskan untuk liburan 4 hari di Singapura.
Mengapa harus Singapura?
Yang pertama karena dekat. Dengan begitu bisa berhemat. Saya dan suami hanya menganggarkan Rp 6 juta untuk liburan ini. Apakah mungkin? Mengapa tidak! Kebetulan saya dapat promo tiket murah dari Air Asia, juga dapat harga diskon menginap di sebuah hotel yang baru dibuka.
Yang kedua, saya ingin mengunjungi Bras Basah Complex, tempat hunting buku-buku second yang murah. (Dasar penggila buku, hehehe). Sekalian ingin mengintip sistem library e-kiosk yang keren di National Library Building. Siapa tahu bisa dicontek hehehe...
Nah, dengan hanya berbekal niat dan beberapa lembar hasil googling tentang wisata Singapura, kami pun berangkat pada tanggal 28 September 2011. Tanpa ikut rombongan tur dan semacamnya, benar-benar hanya kami berdua. Bisa? Sangat bisa! Singapura adalah negara kecil yang sistem transportasi dan lain-lainnya sangat tertib. Tanpa guide pun kita tidak akan tersesat sampai di sana.
Persiapan
Sebagaimana karakter saya yang spontan, tak ada persiapan khusus untuk liburan ini. Saya sudah memesan tiket Air Asia sejak beberapa bulan sebelumnya, karena dulu berniat untuk ke Singapura dengan tujuan lain, yakni wisata menulis bersama pemenang Lomba Cerpen yang saya adakan tahun lalu. Hanya saja si pemenang tak bisa berangkat, jadi saya beli saja tiketnya untuk keperluan ‘honeymoon’. Hehehe
Cara memesan tiket promo sangat mudah. Yaitu dengan surfing di http://mobile.airasia.com (kebetulan saya pengguna blackberry, jadi gampang sekali melakukan ini). Memang harus agak sabar mencari, karena tiket promo diberlakukan hanya untuk tanggal-tanggal tertentu saja yang kita tidak tahu. Coba saja mencari tanggal-tanggal di luar hari libur. Misalnya saat weekdays. Saya sendiri memilih keberangkatan hari rabu, karena beberapa kali mencoba searching ternyata harga promo adanya di hari itu. Setelah kurang dari 1 jam mencari, didapatlah tiket untuk dua orang, seharga Rp 1.178.000,- untuk PP Jakarta-Singapore. Saya langsung booking dan membayar via online dengan kartu kredit Visa BNI.
Oke, tiket sudah didapat. Sekarang, di mana akan tinggal? Saya pun membuka situs www.yoursingapore.com. Wah, pilihannya banyak. Inginnya sih menginap di hostel backpacker saja biar murah, tarifnya bisa S$ 50 per malam untuk 1 kamar berisi 2 orang (double room). Tapi ternyata setelah mencoba reservasi di www.hostelworld.com, semua tempat yang saya minati fully booked. Mungkin harus memesan jauh-jauh hari sebelumnya Duh jadi deg-degan, takut gak dapat tempat menginap.
Akhirnya saya putuskan mencari hotel yang cukup bagus tapi harganya terjangkau. Saya memilih yang berada di kawasan Little India, karena di sana dekat mesjid dan banyak resto makanan halal. Ada pilihan Hotel 81 atau Value Hotel yang terkenal cukup murah (bisa dipesan di travel agent agar lebih murah lagi). Hanya saja setelah saya baca review dari mereka yang pernah nginep di sana, kamarnya terlalu sempit, kurang nyaman, atau jauh dari stasiun MRT.
Alhamdulillah setelah bertanya-tanya ke abang Google, ada sebuah hotel yang baru dibuka di kawasan Little India. Namanya Arianna Hotel. Tarif kamarnya sebetulnya di atas S$ 110 per malam (1 S$ kurang lebih Rp 7000) belum termasuk pajak, tapi karena sedang promo saya mendapat harga spesial S$ 88 untuk double room, sudah termasuk pajak. Saya langsung pesan via email ke reservation@arianna.com.sg untuk 3 malam, dan membayar uang muka menggunakan kartu kredit Visa BNI. Uang muka hanya 10%, sisanya dibayar nanti kalau sudah tiba di hotel (bisa cash maupun dengan kartu kredit). Proses pesan memesan ini cukup cepat, tidak sampai sehari sudah beres. Itulah hebatnya sistem layanan di Singapore: semua online dan cepat.
Persiapan berikutnya hanya menyangkut tetek bengek saja, yaitu berupa dokumen perjalanan, pakaian dan alat sholat, obat-obatan, serta uang tunai. Untuk dokumen perjalanan, saya hanya menyiapkan paspor (tak perlu visa untuk ke Singapura),tiket pesawat yang sudah diprint untuk nanti ditukar dengan boarding pass di bandara, serta bukti reservasi hotel (buat jaga-jaga kalau nanti ditanya). Tak lupa saya menyiapkan pulpen untuk mengisi kartu keberangkatan/kedatangan (white card) di bandara nanti. Juga uang untuk membayar airport tax sebesar Rp 150.000,- per orang. Airport tax ini hanya dibayar sekali di bandara Soetta (Di bandara Changi tak perlu bayar airport tax lagi).
Berapa uang yang harus dibekal? Tergantung. Karena niatnya jalan-jalan dan bukan belanja, saya hanya menyiapkan uang tunai Rp 4 juta: yang 2 juta ditukar ke dalam dollar singapore, dan 2 juta lagi dalam bentuk rupiah sekedar untuk cadangan.
Persiapan pun beres sudah. Kini saatnya berangkat ke negara tujuan. 
Hari Pertama: Little India dan Merlion Park
Tanggal 28 September. Pesawat akan take off pukul 05.30, jadi saya dan suami berangkat dari rumah pagi-pagi sekali supaya bisa tiba di bandara Soetta minimal 1 jam sebelumnya. Pesawat Air Asia yang akan kami tumpangi ada di terminal keberangkatan luar negeri, yaitu terminal 2. (Dengar-dengar akhir 2011 akan pindah ke terminal 3).
Kami mengantre di pintu masuk. Sesampainya di counter Air Asia, saya langsung menuju mesin scanner untuk mendapatkan boarding pass. Check in sudah dilakukan via website, jadi saya tinggal men-scan barcode yang diprint dari rumah, lalu keluarlah boarding pass dari mesin tersebut. Saya dan suami kemudian mengantri di meja check in, menunjukkan paspor dan boarding pass serta membayar airport tax Rp 300.000,- untuk 2 orang. Di sini ditimbang bagasi, tapi karena koper saya isinya ringan, tidak kena charge dan boleh langsung dibawa ke pesawat.
Kami lalu menuju bagian imigrasi, di sini diwajibkan mengisi selembar kartu berwarna putih (white card) yang menjelaskan keberangkatan/kedatangan. Semua isian harus sama dengan yang tertera di paspor, dan kita juga harus mengisi alamat selama tinggal di Singapur nanti. Saya isikan saja alamat hotel. White card yang sudah diisi diserahkan ke petugas imigrasi, sobekannya disimpan untuk ditunjukkan nanti kalau pulang ke Indonesia. Si petugas sempat bertanya berapa lama saya akan tinggal di Singapur, saya jawab 4 hari, lalu dia pun mencap paspor saya.
Kami menuju ruang tunggu, di sini barang bawaan diperiksa di bilik X-ray, dan saya kena tegur karena membawa botol berisi minuman. Terpaksa deh minuman dihabiskan dulu, baru kemudian masuk ke ruang tunggu. Di sana kami duduk, sempat sholat subuh di mushala. Oya tak lupa saya men-setting ponsel terlebih dahulu dengan menekan angka *266# (untuk kartu simpati) supaya di Singapur nanti tetap bisa SMS-an.
Tak terasa pesawat tiba, saya dan suami pun masuk dan menempati kursi nomor 6E dan 6F yang sudah dipesan saat booking. Di dalam pesawat pramugari membagikan kacang atom gratis, dan selembar white card lain yang harus diisi untuk nanti diserahkan di bagian imigrasi Singapur.
Penerbangan cukup lancar, hanya sekitar 1,5 jam. Kami tiba di bandara Changi (Terminal 1) pada pukul 08.20. Oya, jam saya masih menunjuk ke angka 07.20 karena waktu Singapore lebih cepat 1 jam dibanding waktu Jakarta. Langsung deh di-setting ke waktu setempat.
Saya ke toilet dulu untuk merapikan baju. Lalu foto-foto di bawah tulisan “arrival”. Minum air gratis dari kran yang sudah disediakan di sekitar situ. Tak lupa mengisi botol kosong dengan air tersebut supaya tidak beli minum, karena air mineral di Singapur sangat mahal, harganya bisa mencapai S$1-3 per botol. Setelah hilang rasa haus dan puas foto-foto, kami pun menuju bagian imigrasi. Di sini diminta memperlihatkan paspor dan white card yang tadi diisi di pesawat. Sobekannya disimpan, jangan hilang, untuk ditunjukkan nanti saat akan meninggalkan Singapore.
Saatnya menuju hotel. Saya sudah berencana naik MRT (kereta listrik) karena murah dibanding naik taksi. Kami berada di Terminal 1 dan untuk menuju stasiun MRT terdekat, kami harus menumpang Skytrain menuju Terminal 2. Sangat mudah karena petunjuknya jelas.
Di stasiun MRT Changi Airport, saya minta peta jalur MRT ke petugas. Gratis. Kemudian membeli tiket kereta di General Ticketing Machine. Pilihannya ada 2, yaitu beli tiket standar untuk 1 kali jalan, atau beli EZ-Link card yang bisa dipakai ke berbagai tujuan baik MRT maupun bis. Saya pun minta saran ke petugas. Karena akan berada di Singapur cukup lama, kami disarankan membeli EZ-Link card. Selain praktis, bisa diisi ulang, dan kalau nanti sudah tak digunakan sisa kelebihan uangnya bisa direfund. EZ-link card ini hanya berlaku satu kartu untuk satu orang. Maka dibelilah 2 buah EZ-Link card untuk saya dan suami, masing-masing senilai S$ 10 dengan harga S$ 15 yang artinya S$ 5 untuk jasa pembuatan kartunya.
Selesai urusan tiket, kami pun naik MRT. Tidak lupa menempelkan EZ-link card di pintu masuk (kalau nggak ya nggak akan bisa masuk). Ruangan kereta ini bersih dan ber-AC. Di setiap dinding tertera peta jalur kereta berupa titik-titik stasiun yang akan dilewati. Titik-titik tersebut akan menyala sesuai dengan stasiun yang sedang disinggahi, diiringi pengumuman via pengeras suara juga. Sangat jelas sehingga orang yang pertama naik MRT pun tidak akan tersesat. Beda dengan kereta Bogor-Jakarta, kita suka bingung sedang ada di stasiun mana: Cilebut atau Gondangdia, jadinya deg-degan dan malah kelewat hehehe...
Oya di setiap dinding kereta ada rambu-rambu dilarang merokok, makan minum, atau membawa cairan/gas yang mudah terbakar. Merokok akan dikenakan denda S$ 1000, makan/minum dendanya S$ 500, membawa cairan/gas yang mudah terbakar S$ 5000. Wah, pantas saja bersih banget ruangannya. Tak ada sampah sebiji pun. Patut dicontoh:).
Nah, saya dan suami sibuk membaca peta, mengikuti jalur MRT menuju hotel. (Pihak hotel sudah memberi arahan sebelumnya). Pertama-tama dari MRT Changi, kami menuju stasiun MRT Tanah Merah. Ini merupakan stasiun interchange (pergantian), jadi dari sini turun, kemudian transit ke kereta yang menuju arah Joo Koon. Petunjuknya sangat jelas. Lalu kami turun di stasiun Outram Park. Dari Outram Park, ganti kereta lagi yang ke arah Punggol, turun di stasiun Farrer Park. Total perjalanan dari Changi ke Farrer Park sekitar 1 jam.
Tiba di stasiun Farrer Park, saya dan suami berjalan kaki menuju pintu keluar. Tidak lupa menempelkan EZ-link card di tempat yang tersedia. Kalau tidak, nanti akan dikenai charge jarak terjauh sehingga nilai kartu jadi berkurang banyak. Di pintu keluar ini agak bingung karena banyak arah menuju jalan raya. Jadi kami pilih saja salah satu, dan abrakadabra...tibalah di udara terbuka. Jalanan bersih dan nggak macet seperti di Jakarta, namun ada banyak lampu merah. Bingung, jadi saya memutuskan untuk bertanya pada orang yang lewat, “Excuse me, Sir, where is Mustafa Center?” Mustafa Center adalah patokan lokasi hotel tujuan kami.
Mengejutkan, karena orang Singapur ternyata ramah. Kami pun jalan kaki sesuai petunjuk tersebut. Melewati City Square Mall dan Serangoon Plaza. Lima menit kemudian tibalah di pusat perbelanjaan Mustafa Center, tepatnya di jalan Syed Alwi. Persis di depannya berdiri Arianna Hotel, tempat kami akan menginap. Hotel ini mungil, awalnya seperti ruko, tapi ternyata di dalamnya ada 4 lantai dengan total 50 kamar. Cozy enough. Apalagi dikelilingi banyak restoran baik halal maupun vegetarian yang buka 24 jam, tinggal disini nggak akan kelaparan deh..:) Juga ada banyak warnet yang buka 24 jam dengan tarif sekitar S$ 1.5 per jam.
Kami disambut hangat dengan bahasa Inggris yang sangat jelas bagi orang yang level-nya cuma sampai intermediate. Saya memberikan print out bukti reservasi. Karena waktu check in adalah pukul 2 siang, sementara jam masih menunjukkan angka 10.00, saya hanya titip koper. Tadinya saya mau sekalian melunasi biaya hotel, tapi kata resepsionisnya nanti saja kalau sudah mau check in. Jadi ya sudah, jalan-jalan dulu saja.
Yang pertama kami kunjungi tentu yang dekat dulu, yaitu Mustafa Center. Ini adalah pusat perbelanjaan yang buka 24 jam. Namanya juga pusat perbelanjaan, berbagai macam barang dijual di sana. Ada lantai yang khusus jual parfum berbagai merek, jam tangan, makanan baik segar maupun olahan, pakaian, barang rumah tangga, elektronik, dan sebagainya. Yang menarik adalah tempat dvd. Di sana tidak hanya dijual koleksi DVD film Holywood (baik film baru maupun jadul), tapi ada juga film Korea, Bollywood, dan...Indonesia! Koleksi film Indonesianya cukup lengkap lho, memenuhi tiga rak besar dari atas sampai bawah. Heran juga, berarti banyak juga peminat film kita. Malah dvd sinetron pun ada hehehe. Harga DVD mulai S$ 7.9, sudah pasti original, dan ada teks Indonesianya. Kalau film-film new release masih mahal, rata-rata S$ 27.5. Yang menarik lagi, pakaian yang dijual kebanyakan baju-baju model India, dari kain katun maupun sari. Wah bagus-bagus deh, harganya mulai S$ 10 (sekitar Rp 70.000, murah kan???)
Daerah ini termasuk kawasan Little India, jadi tak heran bila dimana-mana ada orang India. Dari mulai pegawai mall, restoran, sampai orang-orang yang berkeliaran di jalan, kebanyakan orang keturunan India. Mereka ramah-ramah, lebih ramah lagi saat saya menyebutkan berasal dari Indonesia. Mungkin karena dulu presiden kita Soekarno bersahabat baik dengan PM Nehru, ada semacam keterkaitan sejarah...Yang mengherankan, beberapa dari mereka bisa berbahasa melayu dan mengaku punya teman di Jakarta. O-ow, jadi nggak seru deh 

Di kawasan ini bertebaran restoran India. Ada restoran vegetarian, ada restoran muslim/halal food. Kata orang yang kami temui, restoran vegetarian biasanya dimiliki orang India yang beragama hindu, dan sebetulnya boleh dimakan oleh Muslim karena tidak mengandung babi (iyalah namanya juga vegetarian). Tapi saya dan suami lebih memilih tempat makan yang ada label “muslim” atau “halal” food. Pilihan pertama jatuh ke ABM resto. Letaknya di sudut jalan Syed Alwi, berseberangan dengan Serangoon Plaza dan dekat Mesjid Angullia. Resto ini tidak berlabel muslim atau halal, tapi pemiliknya jelas orang muslim. ABM merupakan singkatan dari AB Mohammed. Saat kami masuk, banyak ibu-ibu berjilbab yang sedang makan di sana.
Saya pun langsung memesan nasi briyani. Saya memilih briyani fish, suami minta briyani chicken, biar nanti bisa saling mencicipi. Untuk briyani chicken harganya S$ 6.2, briyani fish S$ 5.8. Oalah ternyata satu porsi cukup untuk 2 orang! Disajikan cukup menarik dengan nasi yang colorful, dengan lauk yang tertimbun di dalamnya, ditambah bumbu kari dan acar merah. Mmm...rasanya aneh! Ada campuran cengkeh, kismis, daun jeruk, dan bumbu-bumbu asing. Eh satu lagi, paket nasi ini ada keripiknya lho. Suami saya ternyata suka. Iseng saya tanya ke meja sebelah, “Madame, could you tell me what is it?” Ibu berjilbab itu tersenyum dan menjawab, “Bapedum.” Suami saya pun langsung ke pelayan resto minta satu lagi bapedum.
Untuk menghilangkan rasa aneh di mulut, saya memesan teh. Ternyata teh di sana dicampuri susu hangat...mmm...yummy banget. Harganya S$ 1,1, lebih murah dari air mineral yang S$ 1.3. Jadi total biaya makan pagi adalah S$ 15.7.
Wah, kenyang sudah perut. Sedikit bergejolak, tapi mudah-mudahan nggak muntah. Saya dan suami langsung menyeberang ke Mesjid Angullia. Yang namanya menyeberang, jangan bayangkan seperti di Jakarta: nyelap-nyelip atau nyelonong di antara kendaraan yang melaju cepat. Di sini sangat tertib. Kalau mau menyeberang, tekan tombol yang biasanya ada di setiap traffic light, dan kemudian rambu pejalan kaki berubah jadi warna hijau. Itulah saatnya menyeberang. Kalau lampu tersebut belum berwarna hijau, meskipun jalanan kosong, ya harus menunggu (nggak lama kok).
Waktu dzuhur di Singapur ternyata lebih lambat, sekitar pukul 13.15 baru mulai shalat berjamaah. Ada kejadian menarik. Waktu itu suami saya baru selesai sholat dan sedang memakai sepatu. Tiba-tiba ada orang India mendekat, tanpa berkata-kata ia memberi sebungkus roti isi mentega. Suami otomatis bingung, dalam rangka apa nih? Tapi orang india itu cuma tersenyum dan berkata, “For you. Just take it.” Subhanallah, ini yang namanya sedekah. Saya jadi terharu, di mana pun berada orang muslim memang bersaudara...
Usai sholat dzuhur yang dijamak dengan ashar, kami melanjutkan perjalanan menuju Merlion Park dengan naik MRT. Naik dari stasiun MRT Farrer Park ke arah Harbourfront, turun di stasiun MRT Dhoby Gout, kemudian ganti kereta ke arah Marina Bay, dan turun di stasiun MRT Raffles Place. Tidak lupa untuk tap in dan tap out EZ-Link card di pintu masuk dan keluar. Tiba di stasiun Raffles Place, kami keluar via UOB sampai melihat bangunan Fullerton Hotel. Sekali lagi, petunjuk sangat jelas. Kita tinggal jalan kaki sepanjang lorong stasiun (jangan takut keringatan karena lorong ber-AC dan dimana-mana ada eskalator). Nah, di UOB ada sungai dengan pemandangan jembatan dan gedung-gedung tinggi. Ada juga patung burung raksasa “Fernando Batero”. Saya dan suami pun berfoto-foto di situ. Sebetulnya agar perjalanan lebih romantis, kami bisa naik perahu menuju Clarke Quay. Tapi males ah, harus bayar hehe. Jadi kami langsung pergi ke Merlion Park yang terletak di belakang Fullerton Hotel. Oya sebelumnya foto-foto dulu di depan Maybank Tower, di situ ada patung orang dan kereta kuda. 
Yang mengesankan, penduduk Singapur amat menghargai pelancong atau pejalan kaki. Saat ada orang berfoto-foto, mereka berhenti dulu dan rela menunggu. Nggak asal lewat sehingga mengganggu view di foto kita. Nggak heran penduduk Singapur bebas masuk ke negara mana pun di dunia tanpa perlu visa. Soalnya selain respectful orangnya juga ramah-ramah. Buktinya saat di stasiun MRT tadi saya sempat ngobrol dengan petugas. Mereka mau berkenalan dan berbincang-bincang. “Your English is very good,” puji salah satu petugas. “Not really, Sir, but thanks,” jawab saya tersipu, hehehe.... Terus ada juga orang yang saking ramahnya, saat saya nanya pake Bahasa Inggris, dia malah jawab dengan Bahasa Indonesia. Mungkin wajah saya Indonesia banget kali ya hehe...Ada lagi orang India yang lewat, suami saya meminta dia memfoto kami. Dengan senang hati langsung deh dia jeprat-jepret, kelihatan berusaha banget sampai jongkok-jongkok segala. Dan hasil fotonya bagus juga. Sebelum pergi dia nanya ke saya, “You are a muslim, aren’t you?” Saya mengangguk. “Me too,” katanya dengan wajah sumringah. Wah, jadi bersyukur deh pakai jilbab, mudah diidentifikasi dan dapat teman
Dari Maybank Tower, kami berjalan ke belakang Hotel Fullerton. Di sanalah terletak patung Merlion dan pemandangan Marina Bay Sand yang terkenal. Banyak turis, termasuk orang Indonesia, yang foto-foto di sana. Padahal cuaca panas, tetap saja tempat tersebut dipenuhi orang. Haus banget, mencari keran air gratis tidak ketemu, jadi terpaksa beli air mineral di kafe dekat situ seharga S$ 3 (kalau di kita harga segitu cukup untuk 10 botol!)

Selesai foto-foto di Merlion Park, saya dan suami menyeberang jalan menuju gedung Esplanade. Ini adalah gedung teater yang dibangun di atas air. Di gedung ini selain ada mal, juga ada perpustakaan dan tentunya ruang teater. Kami ke melihat-lihat brosur acara, siapa tahu ada pertunjukkan gratis yang menarik. Rupanya sedang ada festival seni budaya melayu (Pesta Raya 2011), di mana Indonesia dan Malaysia jadi pesertanya. Ada pameran batik dan pertunjukkan musikal Laskar Pelangi, sedangkan Malaysia menampilkan konser dua artis yang sedang ngetop yaitu Ziana dan Anuar Zain. Event yang paling menarik adalah teater “The Hound of Baskervilles” yang diadaptasi dari novel karya penulis berkebangsaan Inggris, Sir Arthur Conan Doyle. Wah, saya kan penggemar Doyle, semua buku-buku Sherlock Holmes sudah saya baca. Sayang, acara tersebut baru akan digelar bulan depan, itu berarti saya sudah pulang ke Indonesia. Maybe next time will be better... 

Akhirnya harus cukup puas dengan menyambangi perpustakaan umum di lantai 2, yaitu Library@Esplanade. Yang namanya perpustakaan di Singapur, jangan bayangkan ruangan kusam penuh buku berdebu. Ruang perpustakaan ditata menarik, dengan space yang luas dan tatanan lampu yang memberikan kesan megah. Benar-benar nyaman. Ada ruang khusus dvd film, koleksinya sangat lengkap baik new release maupun oldies, juga ada tempat duduk yang nyaman di setiap blok. Di perpustakaan ini terdapat beberapa mesin otomatis yang akan memberikan pelayanan kepada pengunjung, dari mulai melihat-lihat katalog buku, mendaftar jadi anggota, mengecek saldo kartu keanggotaan, memperbarui keanggotaan, dan sebagainya. Mesin ini dinamai Library e-kiosk, ukurannya sebesar mesin ATM. Semua perpustakaan umum di Singapura (jumlahnya ada sekitar 25 termasuk National Library), sudah menggunakan mesin ini. Transaksi pun jadi serba cepat. 


Usai mengitari gedung Esplanade, haris sudah beranjak senja. Perut pun terasa lapar. Kami pun menuju Makansutra Glutton’s Bay, yaitu area makan di tempat terbuka. Indah banget karena tempatnya bersih dan menghadap ke danau. Beberapa konter makanan berjajar di sana. Ada konter yang menyediakan makanan yang tak asing di telinga, misalnya cendol (harganya S$ 2.5), soto ayam (S$ 4), mee rebus (S$ 4). Nah tinggal pilih saja, tapi kita harus berhati-hati karena ada konter yang menjual daging babi. Saya dan suami bingung memilih, jadi kembali saja ke gedung Esplanade di lantai terbawah. Di situ ada kafe namanya Kopi-O. Kami memesan teh hangat (campur susu) seharga S$ 1.4 dan nasi lemak seharga S$ 2.5. Nasi lemak adalah nasi yang dibungkus daun pisang, isinya ada teri, ikan, telur dan sambal. “Mirip nasi kucing,” kelakar suami. Kami pun tertawa,teringat nasi kucing depan rumah yang harganya Rp 2500:).
Pukul 18.30 hari masih terang. Sayangnya entah mengapa badan saya agak demam, jadi kami memutuskan pulang. Untuk menuju stasiun MRT terdekat, kami harus menyeberang dari Espalande ke gedung Marina Square. Marina Square ini adalah mal. Belakangan baru tahu kalau ternyata di Singapura banyak sekali mal. Sempat mampir dulu ke 7-Eleven (sejenis alfamart) untuk membeli roti strawberry ukuran kecil seharga S$ 0.85. Air mineral di sini juga mahal, harganya S$ 1.7 per botol. Kemudian kami menuju stasiun MRT City Hall. Tadinya kami akan turun di stasiun MRT Farrer Park karena paling dekat dengan hotel. Tapi karena penasaran, kami turun di stasiun sebelumnya yaitu stasiun MRT Little India. Dari sini harus berjalan agak jauh menuju hotel. Tapi ada pengalaman menarik yang tak akan terlupakan.

Pekan itu semua penganut Hindu sedang merayakan hari Deepavali, jadi seluruh jalanan di kawasan Little India dipasangi umbul-umbul terang benderang yang bertuliskan “Happy Deepavali”. Deevapali berarti ‘pesta cahaya’ yaitu perayaan kemenangan terhadap kegelapan rohani. Biasanya digelar selama 5 hari. Orang-orang India, terutama yang beragama hindu, sibuk merayakan hari tersebut. Pasar malam digelar, menjual aneka kebutuhan dari mulai baju, patung-patung, craft hingga makanan. Alunan musik India terdengar dimana-mana.
Karena penasaran, saya dan suami pun melihat-lihat pasar malam yang semarak tersebut. Wah keren. Banyak barang bagus. Baju-baju sari India memenuhi etalase, mulai harga 6 sampai ratusan dolar. Ada sebuah atasan berlengan panjang yang menarik hati saya. Bahannya bagus, modelnya keren, warnanya chic buat difoto. Saya langsung menanyakan harga. “How much, Sir?” Si pelayan yang orang India tersebut menjawab, kalau atasan saja harganya S$ 20, kalau sama legging-nya S$ 25. Saya menawar S$ 10 untuk atasannya saja, tapi dia hanya ngasih S$ 15. Baju tersebut dicoba tapi agak kebesaran. Melihat saya ragu-ragu, si pelayan toko bilang, “If you don’t want this, it’s okay. Many people will buy it.”
Wah hebat juga, pikir saya, orang ini sama sekali tidak memaksa untuk beli. Beda banget dengan penjual yang sering saya temui, adakalanya sampai ngambek segala saking inginnya dibeli. Salut deh...Saya pun tidak jadi membeli baju tersebut. Saya malah beli baju tradisional Singapura untuk buah hati saya di rumah. Modelnya mirip baju cina. Harga bandrolnya S$ 18.5, ditawar jadi S$ 15.

Selesai urusan belanja, kembali ke hotel untuk check in dan menyelesaikan urusan pembayaran. Kartu kredit Visa BNI saya diterima. Kemudian saya dan suami mengambil koper, kunci, dan naik lift menuju kamar pesanan kami di lantai 4. Begitu masuk, saya langsung suka penataan kamarnya yang rapi. Ruangannya tidak terlalu besar, toiletnya juga termasuk sangat kecil. Akan tetapi sangat bersih, dan ada jendela menghadap ke luar. Gedung Mustafa Center langsung terlihat semarak dari sini. Wah asyik banget. Terletak di pinggir jalan tapi tidak berisik. Fasilitasnya juga cukup oke. Ada TV digital, mini freezer, safety box, dan... hair dryer. Di meja tersedia pemanas air dan beberapa bungkus kopi dan teh, langsung deh ngopi. Oya, di toilet juga disediakan pancuran air panas, jadi mandi malam pun terasa segar. Sayang esok harinya hotel tidak menyediakan breakfast dengan alasan saya memakai tarif promo. Agak kecewa sih, tapi itu terbayar oleh keramahan staf-stafnya yang oke banget. Dan satu yang terpenting, hotel ini tidak menerapkan 'happy hour'. Tidak ada kecoa, kepinding, suara berisik dan lain-lain seperti yang kerap terjadi di hotel-hotel kecil di Singapura. Saya dan suami merasa aman di sini. Beberapa tamu berjilbab pun menginap di sini, mereka sepertinya berasal dari timur tengah. Pokoknya untuk ukuran ‘budget hotel’, it’s perfect enough for me.
Hari Kedua: Johor Baru dan Sentosa
Hari ini kami berencana mengunjungi Johor Baru, yaitu daerah perbatasan antara Singapore dan Malaysia. Ada apa sih di sana? Kata orang daerah ini bagus untuk dikunjungi karena dari sana dapat melihat gedung-gedung tinggi di Malaysia.
Sebelum berangkat, saya dan suami berfoto-foto dulu di sepanjang jalan Serangoon Rd, karena ada beberapa bangunan kuil yang menarik perhatian. Di antaranya adalah Sri Srinivasa Perumal Temple. Kalau masuk ke sini harus buka alas kaki. Banyak orang India yang beribadah di sini dan menyalakan dupa seperti dalam film-film Bollywood.
Puas berfoto-foto di sepanjang Serangoon road, saya dan suami langsung menempuh perjalanan ke Johor Baru. Diawali dengan naik MRT dari stasiun Farrer Park menuju stasiun Jurong East dan turun di stasiun Woodlands. Butuh waktu sekitar 1-1.5 jam perjalanan. Begitu keluar dari stasiun MRT langsung terhubung dengan mal bernama Causeway Point. Tadinya kami ingin bertualang ke perbatasan Malaysia-Singapur dengan naik bus 950, tapi setelah bertanya ke orang, dia menyarankan untuk tidak ke sana. “Nothing to see there,” katanya. Akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan saja di mal ini, menuju lantai paling atas. Dari sini sudah dapat melihat gedung-gedung tinggi di Malaysia.
Hari beranjak siang dan perut pun lapar karena melewatkan sarapan. Di lantai 7 Causeway Point ini kebetulan ada Banquet Foodcourt. Ini adalah food court pertama yang mendapat sertifikasi halal dari MUIS. Yang jualan banyak orang Melayu, begitu pun pengunjungnya. Wajah-wajah dan logat melayu bertebaran di sana-sini. Ada banyak stall makanan di sini, sekitar 15 unit, tinggal pilih saja. Menu yang dtawarkan beragam, dari mulai Western, Korean, Indian. Ada juga konter Nasi Padang dan Ayam Penyet. Suami saya memilih nasi padang. Berbeda dengan nasi padang ala Indonesia, isinya terdiri atas nasi putih, ayam goreng, telur, dan sayur bayam (bukan daun singkong atau sayur nangka). Rasanya pun aneh, tidak selezat nasi padang di kita, tapi lumayan lah buat berpetualang rasa. Oya harganya S$ 5.5 belum termasuk minum.
Saya sendiri lebih memilih makanan di konter Yong Tau Fu, yang menjual aneka bakso-baksoan. Saya harus memilih minimal 7 jenis bakso dan sayuran, kemudian nanti akan dikasih kuah panas. Saya memesan dengan nasi putih seharga S$ 0.6, sehingga total membayar S$ 5.4. Wah makan bakso panas terasa segar sekali. Sausnya sejenis saus kacang yang agak manis. Nasi putihnya terasa sedikit aneh. But all in all, lumayan maknyus!
Sempat ada kejadian nyebelin saat mengantri di konter makanan. Penjualnya ibu berjilbab yang judes. Logatnya melayu. Dia menyebutkan bill sebesar S$ 5.4 dan saya menyerahkan uang S$ 6. Eh, dia kok nggak ngasih kembalian? Saya minta saus pun nggak dikasih. Dia malah sibuk melayani antrian berikutnya. Sementara orang di belakang saya sudah menyuruh saya pergi karena dia mau bayar. Ya udah, saya pergi saja dan makan. Nantilah kembaliannya diambil belakangan, pikir saya. Ternyata saat saya kembali, si ibu ngambek, teriak-teriak dan nggak mau ngasih uang kembalian. Untunglah ada seorang pembeli, sepertinya orang Chinese. Mungkin ingin jaga imej, terpaksa si ibu ngasih uang S$ 0.6 sambil tetap merutuk, “Okay I will give you the change only this time, but the regulation is when you’ve left this counter I will keep the change.”
Waduh, ada juga ya penjual yang seperti itu... Yang mengherankan juga, di mal sebesar ini nggak ada mushala lho, padahal pengunjung dan pedagang banyak orang muslim. Para jilbaber ada di sana-sini. Wah, lebih enak di mal di Jakarta. Akhirnya saya dan suami terpaksa menuda sholat dzuhur, lalu berjalan-jalan ke toko buku yang cukup besar yaitu toko buku Popular. Di sini buku-buku yang dijual rata-rata berbahasa Inggris. Ada juga koleksi CD musik tapi tidak banyak. Selain itu ada toko khusus jual dan rental DVD film, namanya Multimedia. DVD yang masih baru banyak yang diobral seharga S$ 5. Sayang di sini tidak bisa foto-foto karena dilarang petugasnya.
Usai makan siang, kami langsung berjalan ke stasiun MRT. Mengikuti jalur stasiun line ungu, dan turun di stasiun MRT Harbourfront. Langsung berjalan ke Vivocity mal di lantai 3. Dari sini naik monorail Sentosa Express seharga S$ 3 per orang. Bisa juga sih naik bis RWS8 dengan tarif sekitar S$ 2 per orang. Terserah mau pilih yang mana.
Dari Vivocity, monorail menuju Imbiah Station dan Beach Station. Saya dan suami turun di Beach Station untuk membeli tiket pertunjukan Song of The Sea seharga S$ 10 per orang. Kemudian berkeliling pulau dengan menggunakan bis terbuka yang gratis. Melewati Siloso Beach, beberapa pavilion yang mengarah ke pantai, dan sebagainya. Ah ternyata tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Jauh lebih besar dan indah taman wisata di Indonesia. Wahana permainannya juga kalah banyak dengan di Dufan. Hanya saja di sini lebih tertata dan bersih. Tak ada sampah baik di jalanan maupun di pantai. Dan yang pasti, bisa minum air gratis dari kran yang tersedia di setiap sudut.
Karena pertunjukkan Song of The Sea akan digelar pukul 19.40, kami masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan. Kami naik monorail lagi menuju Imbiah Station. Di sini ada patung Merlion yang terlihat lebih gagah. Kalau malam hari, patung singa ini matanya memancarkan cahaya. Naik satu lantai dengan menggunakan eskalator ada taman Merlion Walk. Kemudian naik beberapa eskalator lagi ada berbagai wahana permainan dan objek foto yang menarik. Ada Tiger Sky Tower, Cable Car, dan sebagainya. Untuk mengikuti wahana permainan ini harus bayar.
Usai berjalan-jalan sekitar Imbiah, kami makan malam di KFC. Menunya lebih spesial dibanding menu yang biasa dimakan di KFC Indonesia. Makan untuk 2 orang seharga S$ 8.6. Menunya terdiri atas 2 spicy chicken, 1 cheese-cream fries, 1 spicy potato, 1 soft drink. Nyam..nyam..nyam... enak sekali terutama kentang goreng bertabur krim kejunya... gurih banget! Kentang bumbunya juga terasa sedap dan lembut. Cocok banget dengan lidah Indonesia!
Dari Imbiah, saya dan suami kembali naik monorail ke Beach Station untuk menonton Song of The Sea. Ini adalah pertunjukkan drama musikal yang menggunakan efek air, api, dan cahaya. Para penonton duduk di tepi pantai menghadap ke laut, tempat pertunjukkan akan digelar. Drama diawali dengan nyanyian yang agak membosankan. Tapi kemudian segalanya berubah exciting saat ‘film kartun’ digelar di atas langit. Tokoh-tokoh ‘kartun’nya terbuat dari efek sinar dan air. Wow keren! Indonesia juga bisa bikin kayak gini nih, apalagi banyak pantai.
Itulah akhir perjalanan hari ini. Perut kenyang, mata riang, hati pun senang. Kembali ke hotel dan tidur nyenyak sampai adzan subuh samar-samar berkumandang.
Hari Ketiga: Orchard Road dan Bugis
Pagi-pagi sekali, saya dan suami berputar-putar dulu di sekitar Little India. Mencari tempat makan untuk sarapan. Seperti saya sudah bilang, sukup banyak restoran halal yang buka 24 jam, di antaranya adalah resto Thai Muslim Seafood. Saat foto-foto di pintu masuk, pegawainya yang semuanya orang India, menyapa dengan ramah. Mereka mempersilakan duduk. Saya dan suami pun memesan makanan sesuai dengan menu yang tertera di dinding resto. Saya memesan masala thosai, sejenis omelet atau martabak besar yang digulung memanjang, di dalamnya berisi kentang yang dimasak dengan sayuran. Disajikan dalam piring dengan 3 macam kuah. Ada kuah krim putih, kuah kari kentang, dan kuah asam pedas. Harga satu porsinya S$ 2. Saya paling suka kuah asam pedas. Maknyus!
Sementara itu suami memesan roti prata yang disajikan dengan bumbu kari kentang. Rasanya enak, harganya S$ 1.4. Seperti biasa kami memesan teh susu hangat untuk menyegarkan tenggorokan. Harganya S$ 0.9. Jadi total biaya sarapan ini hanya S$ 4.4, tapi cukup puas dan kenyang. Terutama karena karyawannya ramah-ramah hehe...
Ada tiga lokasi yang akan dikunjungi hari ini. Yang pertama adalah belanja cindera mata murah di Bugis Street, lalu wisata buku di Bras Basah, jalan kaki sepanjang Orchard Road, dan terakhir menyambangi Chinatown.
Untuk menuju Bugis Street, saya dan suami jalan kaki dari hotel ke Jalan Besar. Di sana ada perhentian bis. Oya di Singapur kita tidak boleh sembarangan mencegat bis, tapi harus di tempat yang ada tanda khusus (tidak harus berupa halte, yang penting ada rambu bergambar bis kota). Jadi lagi-lagi semua serba tertib. Bis di Singapur bersih dan ber-AC, tanpa asap knalpot. Banyak yang bertingkat 2 dengan warna-warna cerah atraktif, sehingga naik bis saja bisa jadi pengalaman menarik.
Kami naik bis bernomor 130, tak lupa menempelkan EZ-link card saat masuk dan keluar. Turun di depan Bugis Junction. Bugis Junction bukan objek menarik untuk dikunjungi karena hanya berupa mal biasa. Yang menarik justru Bugis Street – letaknya pas di depan Bugis Junction dan kita tinggal menyeberang sedikit untuk menuju ke sana. Di Bugis Street ini dijual aneka cindera mata yang murah. Misalnya gantungan kunci hanya S$ 10 untuk 18 biji. Atau kaos bergambar Singapur seharga S$ 10 untuk 4 biji. Saya pun membeli gantungan kunci, dan mencari oleh-oleh pesanan teman tapi nggak nemu. Agak kecewa juga sih belanja di sini karena toko masih banyak yang tutup, mungkin saya datang kepagian. Kalau di Jakarta, Bugis Street ini mungkin mirip kompleks Asemka di daerah Kota, hanya saja barangnya lebih sedikit dan toko-tokonya tertata rapi dan bersih, tidak semrawut apalagi bising oleh klakson kendaraan dan polusi.
Dari sini, saya dan suami jalan kaki melewati Capitol Mal. Tak berapa lama sampai di depan gedung National Library yang cukup megah. Di sana kami bertemu orang India, ngobrol dan foto-foto dulu. Kemudian menyeberang ke arah Bain Street. Di situlah Bras Basah Complex (BBC) berada, tepat di samping National Library. BBC ini adalah tempat penjualan buku-buku, baik baru maupun second. Kalau kita sudah bosan dengan buku lama, beberapa toko melayani tukar tambah lho. Sayang toko-toko yang ingin saya kunjungi seperti Book Point masih tutup. Yang sudah buka adalah toko buku Popular, semacam Gramedia, yang menjual buku-buku bersegel. Yang namanya bersegel tentu harganya mahal. Di toko buku ini pengunjung dilarang mengambil foto. Selain Popular, ada juga toko-toko buku khusus berbahasa China.
Saya tidak tahu ada berapa lantai tepatnya Bras Basah Compelx ini. Mungkin 4 atau 5. Yang pasti kompleks perbukuan di sini beda dengan di Senen. Tidak kumuh, bising, atau panas. Bersih dan rapi meski nggak sebagus mal.
Di lantai dasar, ada Evernew Bookstore yang menjual banyak sekali koleksi novel bekas. Harganya rata-rata S$ 2.9 untuk buku yang kondisinya sudah usang namun masih layak baca. Termasuk sangat murah bila dibanding mengimpor buku bekas via Alibris.com yang bisa mencapai $ 130 per bukunya. Wah, saya jadi ingin memborong semua. Sayang tidak bawa banyak uang. Yah, mungkin lain kali akan ke sini lagi khusus untuk melengkapi koleksi novel impor saya. Oya di sini juga dijual buku anak-anak lho, jadi tergiur deh beli buat buah hati.
Dari Bras Basah Complex kami masuk National Library. Tempat display buku dan segala transaksi ada di lantai gedung paling dasar. Tatanannya seperi Library@Esplanade, hanya lebih besar. Selain penataan ruang yang bagus, penggunaan library e-kiosk juga memudahkan transaksi dan jelajah buku. Sangat nyaman dan ada ruang khusus bacaan anak yang didesain amat atraktif. Banyak even menarik, lagi! Wah kalau perpustakaan kita seperti ini, niscaya minat baca meningkat tajam. Kapan ya bisa terwujud?
Puas melihat-lihat perpustakaan, saya dan suami jalan kaki menuju Orchard Road. Wah, jauh juga. Sebetulnya bisa naik MRT, tapi rutenya agak muter, harus 3 kali transit kalau nggak salah. Jadi ya sudah, jalan kaki sambil melihat-lihat dan membakar lemak. Di sepanjang Orchard ini berdiri mal dan butik-butik branded seperti Salvator Ferragamo, Miu-Miu, Prada, dan sebagainya. Kurang berkesan, karena butik-butik semacam ini di Jakarta pun banyak, tinggal datang aja ke Plaza Senayan, nggak usah jauh-jauh ke Singapur. Hanya saja yang menarik, ada patung-patung fashion yang unik dan colorful di depan gedung Ion Orchard. Di sini bisa foto-foto.
Di belakang gedung Grand Park Orchard terdapat mesjid Al Falah yang menyediakan air minum gratis. Sambil sholat dzuhur mampir dulu deh kesini untuk mengisi botol minuman yang sudah kosong. Lanjut ke Lucky Plaza untuk mencari makan siang dan oleh-oleh. Asian Food Hall terletak di lantai dasar plaza ini. Di sinilah tempat Gayus Tambunan ditangkap saat makan siang, kelakar saya kepada suami. Kami pun segera memesan makanan, suami saya memilih mie siam, dan saya kembali makan Yong Tau Fu. Oya, ada konter makanan Indonesia juga. Saya lihat menu-menunya cukup menarik tapi harganya agak mahal. Contohnya, sepiring nasi uduk spesial harganya S$ 6, bakso sapi komplit S$ 5.5, ayam goreng crispy S$ 6.5.
Berbeda dengan mal lain yang kami temui, masuk toilet di plaza ini harus bayar. 20 cents alias S$ 0.2 (sekitar 1400 perak). Tidak heran karena di sini banyak orang Indonesia yang menginap di apartemen Lucky Plaza untuk berbagai keperluan, baik liburan maupun berobat. Mungkin karena di Indonesia toilet harus bayar, di sini juga diterapkan demikian.
Usai makan siang, saya mampir dulu ke toko oleh-oleh, membeli kaos berlogo singapur seharga S$ 10 untuk 3 kaos, dan tas berlogo singapur juga seharga S$ 10 untuk 4 buah. Cukup murah.
Dari Orchard Road, saya dan suami naik bis nomor 190 menuju kawasan Chinatown. Namanya saja Chinatown, tentu dipenuhi orang Chinese dan produk Chinese. Kurang berkesan karena di sana hanya ada mal sejenis Mangga Dua yang menjual produk-produk dan makanan China. Namanya People’s Park. Hanya saja di jembatan yang menuju ke mal ini terdapat tempat duduk beratap unik. Ada banyak lampion berwarna-warni dipajang di sepanjang atap. Kami pun foto-foto di sana.
Pulangnya, makan malam di sebuah resto muslim 24 jam. Dengan menu mee goreng ikan bilis. Mie ini berwarna merah, entah pakai bumbu apa, dicampur dengan ikan teri. Harganya S$ 3.5, lumayan buat mengganjal perut yang keroncongan. Sedangkan suami saya memilih menu nasi goreng telur dengan harga yang sama. Telurnya dibuat seperti roti prata alias ada kulit pangsitnya. Seperti biasa, minumnya teh susu hangat. Segerrr!
Oya, pemilik resto ini sempat ngobrol sama kita lho. Dia orang india so pasti. Karyawannya ada 20 orang yang dibagi ke dalam 2 shift supaya resto tetap buka 24 jam. Nah cukup mengejutkan bahwa masing-masing karyawan di situ mendapat upah S$ 50 per harinya (sekitar Rp 350 ribu). Wah gaji sebulan jadi berapa tuh? Sekitar sepuluh jutaan ya? Pantes sih mengingat biaya hidup di Singapur cukup mahal. Sayang ketika saya bertanya soal omzet restoran ini, si pemilik nggak mau jawab. “It’s a secret,” katanya tersenyum.
Hari Keempat
1 Oktober. Bersiap-siap untuk pulang. Jadwal penerbangan ke Indonesia adalah pukul 08.30. Jadi saya dan suami harus buru-buru berkemas dan berangkat ke bandara Changi. Pukul 5 pagi kami check out dari hotel dan minta tolong petugas hotel untuk memesan taksi. Inginnya sih naik MRT biar murah, tapi kereta baru akan beroperasi pukul 6 pagi. Akan beresiko bila memaksa naik MRT. Terpaksa deh naik taksi. Cukup cepat menuju bandara, hanya sekitar 30 menit. Tarif yang tertera di argo taksi adalah S$ 16.5. tapi kami harus membayar S$ 33 (alias 2 kali lipatnya) karena penggunaan taksi antara jam 12 malam sampai 6 pagi dikenai midnight charge. Agak mengesalkan sih, tapi nggak apa-apa yang penting cepat sampai di bandara. Terlebih sopir taksinya amat baik, dia memberikan petunjuk tentang tempat-tempat di Singapura yang sebaiknya kami kunjungi kalau ke sini lagi. Ternyata masih banyak lokasi menarik yang belum sempat kami jelajahi. Yah, semoga lain kali ada kesempatan.
Pesawat Air Asia berangkat tepat waktu dan tiba tepat waktu. Akhirnya, welcome back Indonesia. Senangnya bisa kembali ke tanah air. 4 hari sangat singkat, tapi terasa lama untuk meninggalkan negeri tercinta ini (ciee, gombal!). Bagaimanapun kenyataannya, Indonesia tetap negeri paling indah, karena di sinilah rumah kita.***
Senin, 03 Oktober 2011
Tips Jalan Hemat (Sambil Makan Enak) ke Singapura
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






0 komentar:
Poskan Komentar